Perjalanan Menuju Hulu

oleh
Muhammad Makmun Rasyid, Penulis

“Ada perubahan ke arah yang lebih baik ataukah menurun kualitas iman dalam diri?”. Jawabannya kita simpan sementara, sebab pasca Ramadan baru jawaban selaras dengan kenyataan. Sambil berpikir dan bertanya ke kedalaman jiwa, kita bersedih ataukah bergembira melepaskan kepergian puasa Ramadan?.

Di akhir bulan ini, menandakan bahwa kita sudah memasuki babak akhir, yakni terbebas dari neraka. “Bulan Ramadan adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah terbebas dari api neraka” (Hadis).

Status hadis andalan para penceramah itu memiliki kelemahan, sebagaimana yang dikatakan Imam al-Suyuti. Kritikus hadis ternama, Ibnu ‘Adiy bahwa kelemahannya bersumber dari dua rawi, yakni Sallam bi Sawwar yang menurut Imam Ibn Hibban berstatus “munkâr al-Hadîs” (hadisnya tidak layak dijadikan dalil) dan Maslamah bin al-Shalt menurut Ibnu Hatim berstatus “matrûk al-Hadîs” (hadisnya [harus] ditinggalkan). Dalam kajian hadis, jika sudah berstatus begitu, maka posisi hadis “matrûk” berada di bawah “maudhû”, sedangkan posisi hadis “munkar” berada di bawah “matruk”. Lebih-lebih jika menggunakan pisau analisis “jarh wa ta’dîl” (ilmu kritik rawi hadis) maka status hadis tersebut tidak boleh dijadikan sandaran berargumentasi untuk sebuah topik.

Marilah kita maknai hadis di atas dengan perspektif kehidupan kita sehari-hari dalam beragama. Umumnya manusia menuruti apa-apa yang diinginkan nafsu. Sampai-sampai Nabi mentamsilkan, surga itu diliputi perkara yang (umumnya) dibenci oleh jiwa dan neraka diliputi perkara yang disukai syahwat. Neraka itu sebuah tempat menetap dan kediaman yang paling buruk. Walau mampir sebentar saja, maka akan berteriak disebabkan panasnya, yang bahan bakarnya adalah manusia (baca Qs. Al-Baqarah [2]: 24). Kobarannya akan mengelupaskan kulit kepala (baca Qs. Al-Ma’ârij [70]: 15-16 dan Qs. Al-Humazah [104]: 6-9). Kondisi demikian kerap diibaratkan dengan dua butir bara api yang ada di bawah telapak kaki, maka akan menembus otak.

Puasa Ramadan mengajarkan untuk tidak saja menahan hal-hal yang diharamkan tapi hal-hal yang dihalalkan. (misalnya), Allah SWT tidak menghendaki manusia untuk mengebiri hasrat seksualnya, tapi dengan berpuasa agar manusia tidak terpimpin dirinya oleh nafsu. Saat nafsu yang memimpin maka sayap keimanan berupa ketulusan dan kewajaran tidak akan bekerja efektif. Ketulusan diperlukan untuk membangun komunikasi dengan Allah tanpa pamrih dan kewajaran diperlukan untuk sesama manusia.

Ada tiga sifat manusia yang bersemayam dalam dirinya: hewan, setan dan malaikat. Puasa tidak bertujuan agar manusia menjadi malaikat, karena pasti tidak mungkin. Tetapi memelihara masing-masing ketiganya agar pos-posnya jelas. Disana harus ditemukan, mana yang aksidental dan mana yang esensial. Siapa yang mampu membedakan itu, ia akan menemukan kebahagiaan sejati.

Menggapai kebahagiaan sejati, masing-masing kita sudah mengerti, banyak duri dan jalan terjal menuju kesana. Diciptakannya “neraka” dunia yang penuh gejolak untuk menguji ketulusan dan keikhlasan setiap manusia. Neraka hakiki diperuntukkan untuk manusia-manusia yang berdosa. Maka kita semua akan mampir dengan perbedaan waktu yang ditentukan-Nya. Sedangkan neraka duniawi sebagai alat uji untuk siapa saja. Semakin tebal imannya, semakin kuat gejolak menyertainya.

Disanalah tiap-tiap fakultas dalam diri yang berpotensi menyukai segala sesuatu harus dikontrol. Mengontrol dari syahwat yang selalu menuruti keinginan nafsu; dari kemarahan yang menyukai balas dendam; dari mata yang menyukai hal-hal senang (walau dilarang); dari telinga yang menyukai suara-suara merdu (walau dilarang) dan lain sebagainya. Sebab itulah, manusia pun disebut dengan mikrokosmos. Struktur jasadiyah sangat lengkap. Puasa ini seperti kita sedang kuliah di fakultas kedokteran yang mempelajari satu persatu isi diri kita. Disini para sufisme menganjurkan, agar semakin mendalam studi tentang Allah. Dalil populernya, “siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah”.

Perenungan-perenungan atas fakultas dalam diri dan pembagian-pembagiaannya akan membuat tahu kemana kita sejatinya berlabuh di dunia ini. Di dunia inilah Allah menciptakan pasar yang disinggahi para salik dan musafir. Masing-masing mencari kebutuhannya dan tidak semua manusia betul dalam memilih. Tangkapan inderawinya masih tergantung dorongan jenis sifat yang mana: hewan, setan ataukah malaikat.

Ada manusia yang memelihara jiwanya dengan baik, tapi ada pula yang mengotorinya. Ia menganggap bahwa jasadnya baik maka baik pula jiwanya. Padahal jasad hanyalah tunggangan jiwa yang bersifat sementara. Saat jasad lapuk, maka jiwa akan abadi. Agama memerintahkan agar jiwa selalu merawat jasad dari ragam kotoran duniawi walau ia akan pergi pada waktunya. Sebagaimana seorang pedagang, terlebih dahulu membersihkan satu persatu dagangannya agar laku terjual. Begitu pula manusia, sebelum menuju menghadap-Nya, entah kapan masing-masing di antara kita dipanggil kehariabaan-Nya, kita harus membersihi jasad dan memelihara jiwa agar tidak bernoda.

Maka setiap orang di bulan puasa ini, masing-masing mencari pembersih diri dan pembalut, sesuai informasi yang diterimanya dan kemudian dicobanya dengan penuh keyakinan. Satu sama lain berlomba-lomba dan adapula manusia yang hanya saling bangga-banggaan atas aktivitas ibadah yang dilakukan. Satu sama lain saling memperebutkan Lailatul Qadar dan adapula manusia yang hanya mengimpikan tanpa berbuat apa-apa. Satu sama lain saling menungguh THR dari Allah, tapi adapula manusia yang menunggu THR dari atasannya atau karib kerabatnya.

Memang, dunia ini memiliki kecenderungan menipu dan banyak manusia terperdaya oleh ragam rupanya. Isinya selalu menggoda dan menaklukkan hati setiap insan. Begitu kuat daya tariknya, saat manusia lemah imannya, maka ia masuk ke dalam ruangan kepura-puraan. Dunia yang semula berpura-pura sebagai teman dan akan berpisah tapi dianggap kekal.

Sufisme kerap mengibaratkan dunia ini ibarat perempuan yang berbusana anggun, berparas cantik dan lengkap perkakas permatanya. Manusia banyak yang kelilipan saat melihatnya. Sampai-sampai tak sadarkan diri bahwa perempuan itu tertutup dan hanya terlihat telapak tangan dan parasnya semata. Sedangkan tubuhnya tertutup rapat. Disitulah terjadi perebutan antar manusia untuk saling memiliki. Ada yang mengatakan, untuk mengetahui isinya, harus memilikinya. Ada pula yang mengatakan, cukup melihat dari kejauhan, meminjamnya dan mengembalikan kepada yang Maha Memiliki.

Semakin terang benderang saat kita menoleh sedikit pada sabda Nabi Muhammad SAW—sebagaimana yang dikutip tokokh Sufi terkemuka, Imam Ghazali dalam “Kimiya al-Sa’âdat”. Kelak nanti di Hari Pengadilan, dunia akan ditampakkan layaknya nenek tua yang seram, bermata hijau gelap dan giginya yang bertonjolan. Semua manusia disitu penuh keheranan.

Tiba-tiba ada yang bertanya, “Ampun…! Siapakah gerangan?”.

Malaikat pun menjawab, “Inilah dunia yang deminya kalian bertengkar dan berkelahi serta saling merusak kehidupan”.

Selepas itu, nenek tua yang seram itu pun dicampakkan ke dalam neraka. Tibanya di neraka ia menjerit keras, “Allah…!, dimanakah para pecintaku-pecintaku dahulu?”. Allah pun mengirimkan satu persatu manusia yang mengekalkan dunia itu bersama kekasihnya.

Para pecinta dunia pun mulai menyesal dan meminta kembali ke dunia untuk memperbaiki dirinya. Tapi, semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Oleh karena itu, bersiap-siap dan berusaha mengamalkan ajaran agama semaksimal mungkin di pos-posnya masing-masing. Mungkin di antara kita ada yang terkotori dunia layaknya orang yang terpeleset masuk ke kolam renang, maka sesegeralah bangkit dan kembali ke dasar agar tidak terminum, yang semakin diminum semakin membuat haus.

Dengan demikian, maka perjalan menuju hulu sejatinya adalah mudik yang tidak sekedar ke kampung halaman (yang terkadang) penuh foya-foya dan saling unjuk kesuksesan di perantauan, tapi mudik dari diri yang belum baik menuju baik, dari yang sombong menuju tawadhu’, dari yang kasar menuju lemah lembut, dari yang berbangga-bangga dan bermewah-mewah berlebihan menuju hidup penuh kebermanfaatan, dari yang suka berbohong menuju pribadi yang jujur. Hanya berpindah ke yang lebih baik itu sesungguhnya orientasi berpuasa. Dimana ia tidak saja menyehatkan jasad atau membentuk kedisiplinan, tapi meraih mahkotanya, yakni kejujuran dan ketulusan—istilah KH. Hasyim Muzadi. Maka kita akan menganggap bahwa mudik tidak sekedar fenomena sosial-budaya, tapi aktivitas spiritual yang sangat sakral.

Semuanya itu adalah modal terbesar kita terbebas dari kemerosotan dalam hidup. Tidak perlu di antara kita saling menyalahkan satu sama lain, yang terpenting adalah masing-masing kita berlomba-lomba mewujudkan integritas diri. Jika memiliki jabatan, maka jabatan itu adalah titipan sementara dan lain sebagainya. Status sosial dan politik kita pun sementara. Jangan digenggam erat-erat agar tidak termasuk para pecinta dunia. Dunia hanyalah jembatan tempat menanam kebaikan untuk manifestasi akhirat.

Sifat-sifat buruk itu kita cuci bersih-bersih—sesuai kemampuan masing-masing—selama Ramadan, agar tidak masuk ke dalam neraka yang menyengsarakan siapa saja. Dan menjauhi sifat-sifat buruk guna menertibkan keadaan. Sifat-sifat buruk itu diistilahkan oleh Sayyid Qutb sebagai tumpukan sampah yang menjerumuskan kepada kesengsaraan dan keresahan. Semoga amal ibadah puasa Ramadan kita diterima disisi-Nya. Amin.###

*Penulis buku-buku Islami

Baca berita kami lainnya di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.