Menjaga Indonesia

Pasca Banjir Bonebol Warga Masih Kesulitan

HABARI.ID I Banjir bandang di Kabupaten Bonebol (Bone Bolango) beberapa bulan lalu, memang telah usai. Tapi banjir itu masih meninggal kemelut bagi para korban terdampak.

Salah satu masalah terbesar pasca banjir tersebut, ialah tidak ada tempat bernaung bagi para korban yang rumahnya hanyut dibawa air bah tersebut.

Mereka masih bertahan di hunian sementara yang dibuat oleh para relawan yang tergabung dalam relawan Ojol (Ojek Online) Peduli Bone Bolango, Kamis (29/10/2020)

Eman, satu dari puluhan kepala keluarga yang menjadi korban ganasnya banjir tersebut. Di hari naas itu, dirinya harus mengikhlaskan harta benda bersama rumahnya hancur, dan hanyut tergerus arus sungai yang meluap.

Tak ada yang sempat diselamatkan, air sungai yang tiba-tiba meluapkan membuatnya harus lari bersama istri dan ke dua anaknya, menuju tempat yang lebih aman.

Kini harta benda telah tiada, Eman yang hanya seorang petani harus kembali memikirkan nasib keluarganya dan tempat tinggal yang baru.

Nampak seorang warga korban bencana banjir bandang, saat duduk santai di hunian sementara miliknya.(f/dwi).

Untuk bertahan selepas banjir, dirinya dan 26 Kepala Keluarga lainnya, memutuskan untuk tinggal di Hunian sementara buatan para relawan.

Dimana sekurangnya sebanyak 27 dari 65 Kepala Keluarga telah dibangun hunian sementara, untuk sisanya pihak relawan masih menunggu dana dan uluran tangan dari pihak yang peduli.

Sudah beberapa minggu Eman bertahan di hunian sementara tersebut, baginya tempat itu sudah cukup baik untuk dapat menampung keluarganya.

Hunian Sementara itu dibanguan dengan dana seala kadarnya oleh para relawan, kebanyakan merupakan anggaran dari bantuan masyarakat Gorontalo. Hunian itu dibuat dengan berdindingkan terpal, beratapkan daun kelapa, dan beralaskan tanah.

“Saya pilih ke sini, sebelumnya sama keluarga, tapi kasian juga di sana soalnya di sana rumahnya kecil lalu ada 4 kepala keluarga yang tinggal, maka saya pindah,” jelas Eman.

Dengan keadaan seperti itu, tak jarang kata eman dirinya harus berjaga tiap malam untuk mengusir nyamuk yang menggigit anak-anaknya, mengingat hunian sementara itu tak memiliki plafon membuat nyamuk sering bersarang di hunian tersebut.

Untuk memenuhi pangan sehari-hari, Eman dan para korban mendapatkan bantuan dari para relawan, tak jarang juga warga desa saling bantu-membantu.

Untuk keperluan air bersih, Eman harus menempuh perjalanan hampir 1 Km untuk bisa mendapatkan air bersih, wajar lokasi hunian sementara tersebut belum dilengkapi dengan fasilitas air bersih karena terkendala pada anggaran.

“Air di sini susah, mau ambil air banyak tak ada tempat untuk menampung, karena yah ruangan di dalam tidak luas, cuman dapur deng kamar saja,” jelas Eman.

Eman berterima kasih kepada para relawan yang telah berinisiatif untuk membangun hunian sementara tersebut, mengingat sejak di bersihkannya jalan paska banjir, sudah tidak ada lagi uluran tangan dari pihak yang berwenang terkait nasib mereka yang kehilangan tempat tinggal.

“Katanya ada janji pemerintah mau dibangun rumah kembali, saya dengar dari istri saya, tapi harus ada tanah sendiri, sedangkan saya punya tanah sudah air bawa juga, sudah jadi sungai itu saya punya tanah, pokonya rumah dengan tanah habis,” ungkap Eman yang bekerja sebagai petani itu.

Sementara itu, Ray salah seorang relawan Ojol mengatakan, pembangunan Hunian Sementara ini sebagai langkah konkrit dalam membatu warga paska banjir.

Sebab bagi dirinya semua para relawan lain, dampak banjir ini bukan hanya permasalahan alam tetapi juga berimplikasi pada masalah sosial, terutama tempat layak tinggal bagi warga yang hilang.

“Sebanyak 27 sudah kita bangun, 6 bangunan dibangun dilahan warga, sedangkan yang lahannya habis di gerus banjir, kita bangun di sini, totalnya masih banyak masih ada kurang lebih 32 lagi yang akan kita upayakan,” jelas Ray.(wi’/habari.id).