Kekurangan Zinc Tingkatkan Risiko Malaria

oleh
oleh
foto istimewa.

HABARI.ID, KAMPUS I Malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles ini setiap tahunnya menginfeksi jutaan orang. Berdasarkan data World Health Organization, pada tahun 2019 terdapat sekitar 229 juta kasus malaria di dunia dengan lebih dari 400 ribu kematian. Angka ini menunjukkan bahwa malaria bukan sekadar penyakit biasa, melainkan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan komprehensif.

Di Indonesia, khususnya di wilayah timur, malaria masih menjadi masalah yang belum sepenuhnya teratasi. Salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus adalah Kabupaten Pohuwato. Aktivitas pertambangan yang marak di wilayah ini turut menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Anopheles, sehingga meningkatkan risiko penularan. Namun, di balik faktor lingkungan tersebut, ada satu aspek penting yang sering luput dari perhatian: kondisi gizi masyarakat.

Sebuah penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Paguat mengungkap fakta menarik tentang hubungan antara asupan mikronutrien dan risiko malaria. Penelitian ini menyoroti tiga zat gizi penting, yaitu vitamin A, zat besi, dan zinc. Dengan menggunakan metode observasional melalui pendekatan cross-sectional, para peneliti menganalisis pola konsumsi 37 responden yang memiliki riwayat malaria. Data dikumpulkan melalui wawancara dan metode food recall selama tiga hari, kemudian dianalisis menggunakan aplikasi Nutrisurvey.

Hasilnya cukup mengejutkan. Dari ketiga mikronutrien yang diteliti, hanya zinc yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian malaria. Individu dengan asupan zinc rendah memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi malaria dibandingkan mereka yang asupannya cukup. Bahkan, analisis menunjukkan bahwa kemungkinan terkena malaria pada kelompok dengan asupan zinc rendah mencapai sekitar 72 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan asupan cukup yang berada di kisaran 32 persen.

Temuan ini menegaskan peran penting zinc dalam sistem kekebalan tubuh. Mineral ini berfungsi dalam pembentukan sel imun, mengatur respons peradangan, serta membantu tubuh melawan infeksi. Ketika tubuh kekurangan zinc, sistem imun menjadi lemah, sehingga lebih rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk malaria. Secara global, kekurangan zinc bahkan diperkirakan berkontribusi terhadap hampir 18 persen kasus malaria di negara berkembang.

Zinc sebenarnya dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan seperti daging merah, makanan laut, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sereal yang diperkaya. Namun, pola konsumsi masyarakat yang cenderung tinggi makanan berbasis nabati dengan kandungan fitat dapat menghambat penyerapan zinc dalam tubuh. Inilah yang membuat kecukupan zinc sering tidak tercapai meskipun asupan makanan terlihat cukup.

Menariknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara vitamin A dan zat besi dengan kejadian malaria. Meskipun kedua nutrisi tersebut tetap penting bagi kesehatan, dalam konteks penelitian ini, keduanya tidak secara langsung memengaruhi risiko infeksi malaria.

Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa pencegahan malaria tidak hanya bergantung pada pengendalian nyamuk atau perbaikan lingkungan. Faktor gizi, khususnya kecukupan mikronutrien seperti zinc, juga memainkan peran penting dalam memperkuat daya tahan tubuh. Dengan kata lain, strategi melawan malaria perlu diperluas, tidak hanya fokus pada vektor penyakit, tetapi juga pada kualitas asupan gizi masyarakat.

Ke depan, upaya peningkatan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang perlu terus digalakkan, terutama di daerah dengan risiko malaria tinggi. Pemenuhan kebutuhan mikronutrien bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi juga bagian dari strategi besar dalam mengurangi beban penyakit menular di masyarakat.(bm/habari.id).

Baca berita kami lainnya di