HABARI.ID I Temu jurnasil yang berlangsung selama dua hari sejak Jumat (12/06/2026) sampai Sabtu (13/06/2026) di Markas Jurnalis Gorontalo, bukan hanya seremonial belaka. Karena menghadirkan peserta seperti pejalar dan mahasiswa, serta menampilkan berbagai narsumber berkompeten satu diantaranya Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Erwinsyah Ismail, yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Povinsi Gorontalo.
Terlepas dirinya sebagai Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, peran Erwinsyah Ismail sangat penting dan strategis untuk kemajuan daerah dan masyarakat, terutama mereka yang masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa.
Karena lelaki akrab disapa Erwin Ismail itu, juga merupakan Tokoh Komunikasi Publik Provinsi Gorontalo yang dinilai mampu memberikan pemahaman serta pencerahan kepada generasi muda Gorontalo, tentang komunikasi publik.
Hal ini terlihat dari aktivitas Erwin Ismail saat bertindak sebagai narasumber, membawakan materi komunikasi publik dan peran media dalam demokrasi pada kegiatan Temu Jurnalis Sabtu (13/06/2026).
Dimana lelaki jebolan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta dan Universitas Fajar Makassar tersebut, membagikan dan menyalurkan ilmu yang Ia dapat selama kuliah kepada peserta dalam kegiatan tersebut.
Ada banyak hal yang disampaikan Erwin Ismail dalam kegiatan itu, seperti peran pers dalam ruang publik sebagai watchdog dan penyambung kedaulatan rakyat, yang turut menarik perhatian peserta Temu Jurnalis.
Tdak hanya itu saja, pada saat Erwin Ismail menyampaikan materi tentang mendiagnosis kerentanan era informasi, terjadi dialog dan tanya jawab antara Erwin Ismail dengan perserta.
“Dalam mendiagnosis kerentanan era informasi, ada tiga hal yang patut menjadi perhatian kita semua, terutama adik-adik pelajar dan mahasiswa. Pertama ancaman, mulai dari umpan klik atau clickbait. Umpan klik ini, biasanya untuk mengejar rating dan kepatuhan pada algoritma distribusi media sosial. Dampak sistemiknya, mengorbankan kedalaman substansi dan diskusi kebijakan publik menjadi dangkal ..,”
“Kedua ancaman hoaks dan disinformasi, yang kerap memanipulasi fakta yang disengaja untuk agenda tertentu, dan berdampak sistemik menghancurkan jembatan komunikasi verbal, melahirkan ketidakpercayaan massal. Ketiga ancaman echo chamber, dimana algoritma mengurung pengguna hanya pada informasi yang sesuai dengan bias mereka. Tapi dampak sistemiknya polarsasi opini ekstrem, membunuh ruang publik netral yang menjadi prasyarat demokrat,” papar Erwin Ismail.
Selain memberikan materi dalam kegiatan Temu Jurnalis, Erwin Ismail turut memberikan kuis berkaitan dengan materi yang Ia sampaikan untuk peserta Temu Jurnalis.
Pasca memberikan materi, Erwin Ismail membuka ruang diskusi ringan dengan jurnalis Gorontalo serta pelajar dan mahasiswa peserta Temu Jurnalis. Bahkan sebagian diantara peserta Temu Jurnalis itu, mengabadikan momen tersebut foto bersama Erwin Ismail.
“Pesan saya kepada adik-adik semua, harus cerdas dalam berkomunikasi, bijak menggunakan sosial media apalagi di era serba AI sekarang ini. Dan ingat, harus bisa membedakan mana produk jurnalis dan konten kreator,” ungkap Erwin Ismail kepada peserta Temu Jurnalis saat itu.(bm/habari.id).







