HABARI.ID, KABUPATEN MOJOKERTO I Upaya pencegahan stunting terus didorong Pemerintah Kabupaten Mojokerto sejak usia remaja. Bunda Genre Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarraa, mengajak generasi muda memahami bahaya rokok, pentingnya mencegah anemia, serta pemenuhan gizi sebagai bekal menuju generasi sehat dan berkualitas.
Pesan tersebut disampaikan Bunda Hana, sapaan akrab Shofiya Hanak Albarraa, saat menghadiri Program Remaja Sehat Cegah Rokok dan Anemia (Praja Satria) di SMK Pemuda Kutorejo, Kecamatan Kutorejo, Jumat (7/8) pagi.
Kegiatan diawali dengan senam, minum susu dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan poster Kawasan Antirokok dan poster edukasi ajakan bebas anemia, serta edukasi mengenai bahaya rokok, pencegahan anemia, pemenuhan gizi, dan kaitannya dengan upaya pencegahan stunting.
Bunda Hana menegaskan, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak telah memasuki usia balita. Upaya tersebut perlu dipersiapkan sejak masa remaja melalui pemenuhan gizi seimbang, pencegahan anemia, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari paparan asap rokok.
“Pencegahan stunting harus kita mulai sejak remaja. Karena remaja hari ini adalah calon orang tua di masa depan. Maka, mereka harus memahami pentingnya gizi dan juga bahaya rokok, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan di sekitarnya,” ujar Bunda Hana.
Menurutnya, bahaya rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif. Asap rokok juga dapat memberikan dampak terhadap anggota keluarga dan anak-anak yang berada di lingkungan tersebut. Karena itu, menciptakan rumah maupun lingkungan yang bebas asap rokok menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak.
“Ketika orang tua merokok, yang terdampak bukan hanya dirinya. Anak juga bisa menjadi perokok pasif. Karena itu, kita ingin membangun kesadaran bahwa menciptakan rumah dan lingkungan yang bebas asap rokok merupakan bagian dari upaya melindungi tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Bunda Hana juga mengungkapkan, berdasarkan Data Asesmen Hasil Program Kegiatan Sekolah Bareng Dokter Spesialis Anak (DPSA) Kabupaten Mojokerto tahun 2024, paparan asap rokok dan polusi menjadi salah satu kendala terbesar dalam intervensi terhadap anak usia 0–60 bulan di 27 Puskesmas, dengan persentase mencapai 65 persen.
Sementara itu, faktor lainnya meliputi pola asuh sebesar 45 persen, kondisi ekonomi kurang sebesar 20 persen, serta riwayat kelahiran prematur atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebesar 10 persen.
Kondisi tersebut, lanjut Bunda Hana, menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan bersama. Edukasi kepada remaja menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran hidup sehat sekaligus mempersiapkan mereka menjadi calon orang tua yang memahami pentingnya kesehatan keluarga.
“Anak-anak dan remaja harus kita bekali dengan pengetahuan. Mereka harus tahu bahwa rokok memiliki dampak panjang terhadap kesehatan dan bahwa pencegahan stunting juga harus dipersiapkan sejak sekarang,” katanya.
Selain bahaya rokok, pemenuhan gizi remaja, khususnya remaja putri, juga menjadi perhatian. Asupan zat gizi yang cukup serta konsumsi TTD secara rutin diperlukan untuk membantu mencegah anemia.
Upaya tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan pendidikan, pembentukan kelompok sebaya sebagai agent of change, skrining kesehatan secara berkala, serta penguatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
Bunda Hana berharap, edukasi yang diberikan melalui Program Praja Satria tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Para pelajar diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang dimulai dari diri sendiri, kemudian mengajak teman dan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat.
“Harapannya, edukasi ini tidak berhenti di kegiatan saja. Anak-anak dan remaja bisa menjadi agen perubahan, mulai dari dirinya sendiri, kemudian mengajak teman dan keluarganya untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok,” pungkasnya.(cha/Habari.id).






