Menjaga Indonesia

Penurunan Kasus Covid-19 Belum Signifikan, Pemkot Dukung PSBB Dilanjutkan

HABARI.ID I Kasus Covid-19 di daerah yang belum siginifikan, menjadi salah satu alasan Pemkot (Pemerintah Kota) Gorontalo, untuk mendukung penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilanjutkan.

Penurunan kasus Covid-19 belum siginifikan, dan dukung atas PSBB untuk dilanjutkan, diungkap Wali Kota Gorontalo Marten A. Taha, pada rapat Fokopimda melalui video conference Minggu (17/05/20).

Dia akui, bahwa benar apa yang disampaikan Rektor UNG pada rapat tersebut. Memang terjadi penurunan kasus Covid-19, namu belum siginifikan.

Karena, daerah belum mencapai pada titik puncak atau optimum point sampai 60 hari, dan baru mencapai 35 hari jika dihitung dari kasus pasien 01.

“Kenapa beberapa pekan sebelumnya kasus ini melambat, karena daerah kehabisan radpid test dan PCR untuk pemeriksaan. Dan bukan dikarekan kasusnya tidak ada,” ujar Marten.

Dari sisi indikator reproduksi dasar yang digambarkan oleh Rektor UNG pada rapat tersebut, bahwa kasus Covid-19 hanya turun pada angka 0,16 persen. Artinya, belum ada penurunan yang siginifikan, ada kesembuhan dan pelambatan pertambahan kasus.

“Kalau kita ingin penurunan itu berjalan secara signifikan, tentu harus dikedepankan pengetesan, dan kami dari Pemerintah Kota Gorontalo tidak merekomendasikan lagi rapid test…”

“Alasannya, alat rapid test itu ada berbagai macam kualitasnya, ada empat macam ada negatif paslu dan benar, demikian pula dengan positif palsu dan benar…”

“Ketika digunakan, saat di rapid test dua kali positif, saat masuk tahap PCR hasilnya negatif. Maka, Pemerintah Kota Gorontalo menyarankan untuk langsung melakukan PCR, apalagi reagen kit sudah bertambah di BPOM Gorontalo,” jelas Marten.

Dari pemaparan Rektor UNG, Marten simpulkan bahwa PSBB di Gorontalo haru dilanjutkan. Dan Pemerintah Kota Gorontalo, mendukung sepenuhnya.

Kemudian berkaitan dengan peran Pemerintah Kota Gorontalo dalam menangani kasus Covid-19, terus mengidentifikasi pasien. Contoh, pasien yang berkategori 02 di wilayah Provinsi, di Kota Gorontalo merupakan pasien 01.

Bahkan di Kota Gorontalo sudah mencapai pasien ke 10, dengan empat klaster berbeda. Diantaranya, JT Gowa, Nunukan Kalimantan, Lombok, Sukabumi.

“Jika ada seseorang yang sudah terjangkit, kami bukan melakukan tracking secara dini, tetapi ke hulu nya dulu. Untuk mencari tahu yang bersangkutan terjangkit dari mana…”

“Seperti pasien klaster Sukabumi yang baru, kami cari sampai ke hulunya dulu, dan ternyata bersangkutan beberapa hari lalu menggelar buka puasa bersama, dengan pasien nomor 21 bersama 12 orang rekan mereka…”

“Nah, ini yang menjadi penyebabnya, sampai muncul klaster Sukabumi. Padahal, terinformasi, bersangkutan ini tiba di Kota Gorontalo dalam kondisi negatif usai diperiksa,” terang Marten.(adv/4bink/habari.id).