Menjaga Indonesia

Pemuda Masih Terjebak di Seks Bebas

HABARI.ID I Kemajuan teknologi diera milenial menjadi penting bagi pemuda, jika benar-benar dimanfaatkan dengan baik maka akan memberikan dampak positif terhadap mereka, juga masyarakat. Demikian pula sebaliknya, ketika peluang diera kemajuan teknologi itu disalah gunakan, pemuda akan terjerumus ke lembah hitam dan sulit untuk keluar.

Katakanlah seperti seks bebas, tidak sedikit generasi muda menjadi pelaku seks dan penjaja seks bebas di Kota Gorontalo, dengan berbagai latar belakang.

Mereka terpaksa menggeluti bisnis lendir tersebut dengan beragam alasan, mulai dari gaya hidup, memenuhi kebutuhan sehari-hari ada juga hanya demi membayar uang kuliah.

Hanya karena rupiah, kehormatan dan masa depan mereka korbankan, padahal masih banyak cara lain untuk memenuhi hal yang menjadi alasan mereka tersebut.

Salah satunya Mawar (Nama Samaran.red), wanita bertubuh tinggi putih yang menginap di salah satu satu kos-kosan di Kota Gorontalo, saat diwawancarai Habari.Id Selasa (27/10/2020).

Dia akui, sebelum menjadi pelaku seks bertarif tinggi, dirinya adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi untuk membiayai kuliah, karena minimnya penghasilan orang tua akibat pandemi Covid-19, sempat membuat dirinya frustasi.

Sumber KPA Kota Gorontalo.

Berbagai barang berharga miliknya pun terjual, seperti Laptop, sepatu kesayangannya dan kacamata hitam, untuk dijadikan tabungan biaya kuliah. Tapi sayang, usaha yang dia lakukan harus terhenti akibat dirinya harus membiayai kos-kosan dimana dia tinggal, dan kebutuhan sehari-hari.

Sambil menunggu kabar adanya kiriman dana dari orang tuanya yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah itu, dia pun masih menjalani kuliahnya meski di tengah kesusahan.

Dan suatu ketika, dia pun kembali frustrasi dengan keadaan yang dialaminya, dan menghubungi seorang teman perempuannya untuk mendengarkan curhatnya.

Aka tetapi hal itu tetap saja tidak mengubah keadaannya, dan dia memutuskan tinggal sekamar dengan kekasihnya.

“Berbuat seks pertama kali dengan pacar, saat saya satu kamar kosan dengan pacar saya. Karena tidak ada biaya untuk bayar kosan lagi …”

“Sekitar satu pekan tinggal dengan pacar saya, kami pun putus, karena dia ada pacar simpanan. Akhirnya saya numpang di kosan teman saya …”

“Saat makan dan kuliah saya sudah berantakan, dan saya sempat beberapa kali ikut nongkrong dengan teman-teman laki-laki saya, mulai konsumsi minuman beralkohol juga merokok …”

“Saat lagi iseng-iseng download satu aplikasi obrolan, belum lama kemudian pesan masuk di chat aplikasi itu dan langsung tanya ke saya, berapa kalau satu malam. Saya langsung balas, Rp 1,5 juta sampai pagi …”

“Yang kirim pesan itu om-om dan dia langsung ok. Tapi, saya minta di kos-kosan bukan hotel, dan om-om ini carikan saya kosan dan kita main disitu. Kuliah nanti dilanjutkan lagi, kalau sudah punya banyak uang,” ungkapnya.

Sumber KPA Kota Gorontalo.

Meski sampai sekarang dirinya masih mejadi pebisnis lendir, dari lubuk hatinya paling dalam dirinya sangat menyesal dengan jalan yang sudah dia lalui.

“Secara manusiawi, saya pasti menyesal. Tapi saya tidak mau membebankan orang tua saya dengan kondisi sekarang ini, masih Covid-19. Dan saya sudah janji, saya mau selesaikan kuliah saya demi orang tua saya,” ucapnya.

Sepenggal kisah Mawar (Nama Samaran.red), adalah bukti nyata bahwa generasi muda sangat rentan dengan pergaulan seks bebas. Hal ini dapat dilihat juga dari jumlah penderita penyakit HIV/Aids di Kota Gorontalo dari kelompok usia, mencapai 13 orang, pada Bulan September tahun ini.

Sementara dari data KPA Kota Gorontalo, sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2019 kemarin, mahasiswa atau generasi muda positif penderita penyakit HIV/Aids mencapai 19 orang.

“Penyebab tingginya mahasiswa atau generasi muda mengidap HIV/Aids, salah satunya heterosex,” ucap Sekretaris KPA Kota Gorontalo dr. Riyana Suleman.(bnk/habari.id).