Menjaga Indonesia

Molintogupo Oh Molintogupo …

“Kuman diseberang lautan tampak, Gajah dipelupuk mata tak tampak”. Peribahasa ini menggambarkan betapa mudahnya seseorang melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahannya sendiri, juga betapa mudahnya seseorang menilai perbuatan kecil orang jauh atau diseberang, dibandingkan hal besar yang dilakukan oleh orang yang dekat dengannya.

Hari ini saya meminjam peribahasa itu, dan menggambarkannya dalam bentuk lain; Orang berbuat baik didepan kita terkadang kurang penghargaan yang kita berikan kepadanya, tetapi jika orang yang tidak sering kita lihat akan (baru rencana) memberikan perhatianya, maka itu yang lebih kita agungkan.

Saya ingin memberikan contoh kongkrit.

Belum usai kita menghadapi Bencana Non Alam (Covid-19) yang begitu mengoyak sendi kehidupan masyarakat, hari ini saudara kita, keluarga kita, sebangsa kita di Kabupaten Bone Bolango ditimpa musibah Bencana Alam (Banjir) sehingga mengakibatkan 1.078 KK/5.407 Jiwa terdampak (data BPBD Kab. Bone Bolango sementara) dan sekaligus merobohkan jembatan Molintogupo.

Hal ini mengundang keprihatinan dari berbagai kalangan, entah itu masyarakat, pemerintahan Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi hingga Pusat. Hal itu tentu harus kita lihat sebagai sebuah kewajaran dan perlu untuk di apresiasi.

Terkait dengan peribahasa diatas. Hal ini menjadi tidak wajar, ketika “GAJAH” karya nyata orang yang sudah berjalan dihadapan kita, justru kurang mendapat penghargaan ketimbang yang baru merencanakan, tersebutlah ada Pejabat yang memberikan perhatiannya (dengan baru mengusulkan ke PUPR-RI) terhadap robohnya Jembatan itu, maka ramai-ramai orang mengapresiasi rencana itu) padahal baru mengusulkan, apakah itu yang dikatan semut diseberang terlihat jelas “tampak”.

Gubernur Gorontalo, tidak lagi mengusulkan, tidak lagi merencanakan Pembangunan Jembatan Molintogupo, tapi sudah pada tahapan Pelaksanaan, namun saya hampir belum mendengar ada orang Bone Bolango memberikan Apresiasi/Penghargaan kepada Gubernur Gorontalo.

Apakah hanya karena Pak H. Rusli Habibie tinggal di Gorontalo, apakah karena H. Rusli Habibie hari-hari jumpa kita disini, sehingga berkurang penghargaan kita terhadap hal besar (Gajah di Pelupuk mata) yang dilakukan Oleh H. Rusli Habibie

Apakah itu yang dikatan gajah dipelupuk mata tak terlihat “tak tampak”, tetapi rencana seseorang di seberang sana, menjadi viral dan diagung-agungkan, padahal bentuknya “Seperti Semut”.

Saya tidak habis pikir, sebuah perencaanaan lebih berharga ketimbang sesuatu pelaksanaan. Naudzubillahi Min Dzalik.

saya menulis ini bukan karena saya tidak suka atau alergi dengan bantuan, perhatian orang lain, tetapi alangkah eloknya jika ada statemen dari pihak pihak yang ingin membantu termasuk Aleg DPR RI bahwa akan mengupayakan anggaran dari Kementrian semata-mata menyokong program Pemerintah Provinsi yang sudah berjalan dengan baik.

Demikian terima kasih atas perhatian, mohon maaf jika ada yg salah… ***

Penulis: Thomas Mopili