Menjaga Indonesia

Meredam Fenomena ‘Hospital Phobia’, Nelson: Kepercayaan Publik Harus Dinaikkan

HABARI.ID I Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo menyebutnya dengan istilah hospital phobia. Istilah ini digunakan untuk mewakili fenomena kecemasan yang ditandai dengan ketakutan berlebihan pada sebuah objek; rumah sakit.

Warga (sepertinya) enggan berobat ke rumah sakit. Di hari-hari biasa (sebelum pandemi Covid-19), jumlah orang yang berobat di Rumah Sakit MM Dunda Limboto bisa mencapai 1300 pasien setiap harinya.

Tapi begitu masuk masa pandemi, jumlahnya berkurang drastis, hanya sekitar 300 orang perhari.

Nelson menduga, fenomena hospital phobia ini juga ada hubungannya dengan Covid phobia yang sudah lebih dulu muncul. Padahal di rumah sakit Dunda tak ada pasien Covid-19 yang dirawat karena bukan rumah sakit rujukan Covid-19.

“Jumlah orang yang ke rumah sakit, turun. Saya berfikirnya, orang-orang mulai phobia ke rumah sakit karena mungkin ada Covid-19 di sini. Padahal tidak demikian. Kalau masyarakat paham tentang kondisi ini, maka tidak akan ada fenomena ini (hospital phobia),” ungkap Bupati Nelson Pomalingo

Fenomena hospital phobia ini, menjadi problem yang perlu segera diatasi. Caranya adalah dengan memberikan rasa aman dan nyaman melalui pendekatan yang lebih edukatif untuk mendorong dan menaikan tingkat kepercayaan publik terhadap pentingnya keberadaan rumah sakit.

Tentang penerapan protokol kesehatan, kata Nelson, rumah sakit memang harus menjadi contoh. Karena memang sejauh ini, rata-rata fasilitas kesehatan sudah menjadikan ini sebagai prosedur tetap dalam memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Nelson meminta agar masyarakat tetap berobat di rumah sakit. Tak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan.

Dengan diberlakukannya Norma Perilaku Baru ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo terus melakukan sosialisasi demi meningkatkan kepercayaan dan rasa aman publik untuk kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Aktifitas di rumah sakit, harus seperti sediakala.

Pada kesempatan yang sama Direktur RS Dunda, Irawan Huntoyungo menjelaskan, ketakutan masyarakat terhadap rumah sakit harus dapat dihilangkan.

Sebagai salah satu fasilitas kesehatan di daerah, rumah sakit bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan. Dan rumah sakit merupakan tempat paling taat dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Ada dua RS di Gorontalo yang dijadikan sebagai rujukan Covid-19, RS Ainun sebagai RS rujukan daerah untuk Covid-19, sementara RS Aloe Saboe berstatus rujukan provinsi. Sementara RS Dunda hanya bertugas melakukan screening saja,” ungkap Irawan.(dwi/habari.id)