HABARI.ID, PEMPROV I Pelaksanaan PENAS (Pekan Nasional) XVII Petani dan Nelayan tahun 2026 di Provinsi Gorontalo tinggal menghitung hari, dampak ekonominya sudah dirasakan pelaku usaha di sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, UMKKM serta masyarakat penyedia jasa homestay.
Tidak terkecuali Yanti Wenas, warga Kelurahan Kayu Merah, Kabupaten Gorontalo, yang juga pemilik rumah yang dijadikan sebagai homestay peserta PENAS XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026, yang di temui habari.id Rabu (17/06/2026) siang.
Yanti Wenas sampaikan, sebagai masyarakat Gorontalo Ia sangat mendukung PENAS XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026, apalagi di pusatkan di Kabupaten Gorontalo.
“PENAS ini adalah event Nasional. Kami masyarakat tentunya harus bangga dan mendukung untuk kesuksesan PENAS XVII tersebut. Sebagai wujud dukungan kami terhadap PENAS ini, rumah saya dijadikan sebagai homestay peserta PENAS yang saat ini kontingen dari KTNA Sumatera Selatan,” ujar Yanti Wenas.
Secara detail Yanti Wenas sampaikan, sebelum rumahnya dijadikan homestay PENAS, terlebih dahulu dilakukan survey oleh Dinsosdukcapil (Dinas Sosial, Kependudukan dan Pencatatan Sipil) Provinsi Gorontalo, yang merupakan pendamping kontingen dari KTNA Sumatera Selatan.
“Saya sangat senang bisa berkerjasama dengan pemerintah daerah. Terkait dengan jasa homestay ini, kami diberikan biaya tinggal setiap orang dari setiap kontingen itu mencapai Rp 160.000 selama enam hari. Kami bukan hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi sudah termasuk dengan makanan peserta. Dengan demikian, PENAS XVII ini sangat membantu perekonomian kami sebagai masyarakat, hanya waktu enam hari sudah mendapatkan penghasilan besar,” tutur Yanti Wenas.
Memang benar kata Yanti Wenas, bahwa PENAS XVII Petani dan Nelayan di Provinsi Gorontalo membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena hanya dalam waktu enam hari, perputaran uang di Gorontalo bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Hal ini bisa dihitung dari jumlah peserta yang ke Gorontalo, menghadiri dan mengikuti PENAS XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026. Seperti kontingen dari KTNA Provinsi Sumatera Selatan berjumlah 213 orang, di bawah pendampingan Dinsosdukcapil (Dinas Sosial, Kependudukan dan Pencatatan Sipil) Provinsi Gorontalo.
Jika dilihat dari jumlah kontingen asal KTNA Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 213 orang, dengan biaya tinggal skala nasional setiap orang Rp. 160.000, maka pendapatan masyarakat penyedia jasa homstay mencapai Rp. 34.080.000 setiap hari. Sementara pelaksanaan PENAS XVII Petani dan Nelayan selama enam hari berlangsung di Gorontalo. Sehingga, jika dihitung dengan jumlah 6.000 homestay, perputaran uang di Gorontalo bisa mencapai ratusan miliar.
Sementara itu, Rano Saputra, Koodinator Lapangan dari Dinsosdukcapil Provinsi Gorontalo sampaikan ada berbagai program yang akan dilakukan tim Dinsosdukcapil Provinsi Gorontalo, selama mendampingi kontingen KTNA asal Provinsi Sumatera Selatan.
“Diantaranya penanggungjawab fasilitas akomodasi, penginapan dan pemondokan bagi kontingen Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian sebagai penanggungjawab transportasi, dan penanggungjawab pelaksanaan temu sukses Petani, Nelayan dan Penyuluh,” singkat Rano.(bm/habari.id).






