Bukan Sekadar Air, FPRB Pohuwato Mengantarkan Kelegaan di Tengah Kemarau

oleh

Langkah kongkrit yang diambil Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Pohuwato untuk mendistribusikan air buat warga menjadi kelegaan untuk masyarakat yang saat ini kesulitan air karena musim kemarau yang tak kunjung berakhir.

 

Di bawah komando Ketua FPRB Kabupaten Pohuwato, Zulfiana A. Mbuinga, forum tersebut langsung turun ke lapangan membantu warga yang terdampak kemarau dan kesulitan mendapatkan air bersih.

 

Bagi sebagian warga Pohuwato, kemarau kali ini bukan sekadar soal panas dan panjangnya hari tanpa hujan. Air bersih menjadi kebutuhan yang semakin sulit. Di tengah kondisi itu, Zulfiana memilih hadir dari rumah ke rumah, membawa air sekaligus kepedulian bagi warga yang terdampak.

 

Terik matahari tak membuat langkahnya berhenti. Sejak Senin (14/9/2026), Zulfiana bersama tim bergerak ke sejumlah wilayah terdampak kemarau di Kecamatan Randangan dan Wanggarasi.

 

Mobil-mobil tangki dikerahkan untuk mendistribusikan air langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Gerakan itu kemudian berlanjut pada Selasa (15/9/2026), dengan menyasar sejumlah titik di Kecamatan Marisa.

 

Dalam aksi tersebut, Zulfiana mengerahkan beberapa mobil tangki Harmonis dan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Komando (Kolaborasi Muda Andalan Pohuwato).

 

Bagi Zulfiana, kondisi kemarau yang dirasakan masyarakat bukan sekadar persoalan ketersediaan air. Ada kebutuhan sehari-hari yang harus tetap berjalan, mulai dari memasak, mencuci, hingga kebutuhan air untuk keluarga.

 

Karena itu, distribusi air dilakukan sedekat mungkin dengan masyarakat. Air tidak hanya berhenti di titik pembagian, tetapi diupayakan sampai ke rumah-rumah warga yang membutuhkan.

 

Langkah cepat tersebut menjadi salah satu aksi awal FPRB Kabupaten Pohuwato, meski organisasi tersebut belum menjalani prosesi pelantikan.

 

FPRB hadir sebagai wadah kolaborasi dalam upaya pengurangan risiko bencana. Namun, bagi Zulfiana, kepedulian terhadap masyarakat tidak harus menunggu forum dilantik atau seluruh agenda kelembagaan berjalan.

 

Kondisi di lapangan justru menjadi panggilan untuk bergerak.

 

“Alhamdulillah kami Forum PRB dan BPBD serta Komando bekerja sama dalam pendistribusian air bersih di tengah kondisi musim kemarau. Sudah dimulai sejak Senin kemarin dan akan terus berlanjut untuk memastikan warga tetap mendapatkan air bersih selama musim kemarau,” ujar Zulfiana.

 

Keterlibatan langsung tersebut juga memperlihatkan bahwa menghadapi kemarau membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Pemerintah, organisasi kebencanaan, komunitas pemuda hingga unsur masyarakat bergerak dalam satu tujuan, memastikan warga tetap mendapatkan akses air bersih.

 

Di tengah panas yang menyengat dan jalan yang harus ditempuh dari satu titik ke titik lainnya, mobil tangki yang bergerak membawa air menjadi pemandangan tersendiri.

 

Bagi warga yang menanti, kedatangan air bukan sekadar bantuan. Ada sedikit kelegaan di tengah musim yang panjang dan kering.

 

Dan bagi FPRB Pohuwato, aksi ini menjadi langkah awal bahwa keberadaan sebuah forum tidak hanya diukur dari seremoni pembentukan, tetapi juga dari seberapa cepat bergerak ketika masyarakat membutuhkan.

 

Kemarau mungkin belum berakhir. Namun, di tengah keterbatasan itu, kepedulian yang bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya menjadi ikhtiar bersama agar warga Pohuwato tidak menghadapi musim kering seorang diri.

Baca berita kami lainnya di