Menjaga Indonesia
Daerah

Budidaya Jangkrik, Jadi Alternatif Investasi di Tengah Pandemi

Baru tiga bulan Maskun beralih profesi menjadi pembudidaya jangkrik. Ia memang harus memutar otak mencari pendapatan lain, setelah usaha percetakannya gulung tikar karena terdampak pandemi COVID-19.

Ada jutaan ekor jumlahnya. Hewan-hewan kecil yang hidup dan beranak pinak dalam kotak berukuran 4×2 meter itu, dikenal karena suaranya yang khas.

Bunyi “krik-krik” terdengar setiap saat. Hewan yang masuk kelas insecta dengan nama latin Grylloidea ini, sedang dibudidaya Maskun Po’oe (32) warga Desa Hepu, Kabupaten Gorontalo.

Di masa pandemi, tak ada lagi orderan baliho dan undangan di percetakan yang dikelolanya. Budidaya ternak jangkrik jadi alternatif bagi Maskun untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak semata wayangnya.

“Ini jangkrik jenis alam yang sudah dewasa dan siap dipanen. Setiap dua minggu sekali jangkrik-jangkrik ini sudah boleh dipanen,” kata Maskun.

Lalu dipasarkan ke mana jangkrik-jangkrik ini?. “Jangkrik ini jadi pakan walet dan ikan Lele. Banyak pelanggan terutama pengusaha walet yang memesan jangkrik di sini. 1 ons dihargai Rp. 20 Ribu,” kata Maskun.

Beberapa orang yang memelihara ikan Arwana, juga menjadikan jangkrik sebagai pakan karena memiliki nutrisi yang tinggi.

“Budidaya jangkrik tidak terlalu ribet. untuk pakan, cukup dengan dedaunan. Tak perlu tempat luas untuk penangkaran,” kata Maskun.

Bagi Maskun, budidaya jangkrik jadi alternatif investasi di tengah pandemi COVID-19 yang menghantam semua sendi-sendi kehidupan.(dwi/habari.id)