Ternyata Ini Penyebab UNG Terperosok ke Peringkat 243 Webometrics…

oleh
Webomatrics

HABARI.ID, KAMPUS I Kena sanksi dari Webometrics, menjadi penyebab Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berada di peringkat 243. Soal UNG yang berada di peringkat 243 versi Webomatrics, terpaut jauh di bawah salah satu Perguruan Tinggi yang di Gorontalo, sempat rame diperbincangkan di media sosial beberapa waktu lalu.

Agak aneh memang, UNG dengan segala kapasitasnya, peringkatnya di Webometrics harus berada di bawah Perguruan Tinggi lain di lokal yang sama. Hal ini sempat mengemuka pada Konferensi Pers Annual Report UNG Tahun 2022, Sabtu (31/12/2022) dan ditanggapi Rektor UNG, Dr. Eduart Wolok, ST, MT.

Baca Juga: UNG Annual Report: Keluar dari Polikrisis

“Saya memang tidak memberi respon secara langsung saat ini bergulir. Pemeringkatan di Webometrics sangat bergantung pada aktivitas web Perguruan Tinggi,” kata Eduart.

Dari sisi pemeringkatan di Kementerian, kata Eduart, UNG mengalami peningkatan drastis. “Di Kementerian itu, ada 3 cluster mulai dari PTN-BH, PTN-BLU dan Satker. Di PTN-BLU saja, UNG ada di peringkat 13. Dengan posisi PTN-BH berjumlah 11. Kalau pemeringkatannya menurut cluster, maka UNG ada di peringkat 24. Tapi pertanyaannya, kenapa Webometrics kita berada di peringkat sekian?,” jelas Rektor.

Bagi Rektor, pemeringkatan Webometrics sangat penting karena itu adalah pemeringkatan bereputasi yang mudah untuk dinilai dan dinilai orang. Tapi setelah dilakukan penelurusan, ungkap Eduart, ternyata UNG sedang kena sanksi dari Webometrics. Dan saat ini UNG sedang melakukan klarifikasi dan melakukan perbaikan-perbaikan.

“Yang menarik adalah, salah satu kategori yang dinilai di Webometrics adalah sitasi. Sitasi UNG berada pada posisi 17.785. Pada perguruan tinggi yang sitasinya jauh di bawah ini dan berada pada peringkat 108. Dari sini saja kita bisa melihat UNG berada di peringkat 100-an,” kata Rektor.

Sitasi UNG

Sanksi Webomatrics

Untuk memahami mengapa UNG berada di peringkat 243, setidaknya perlu mengenal indikator yang dinilai dalam pemeringkatan di Webometrics. Wakil Rektor IV UNG, Prof. Karmila Machmud, S.Pd., MA., Ph.D menjelaskan, ada 3 indikator penilaian dari Webometrics, pertama Visibility yang merupakan jumlah backlink atau pun traffic dari website Perguruan Tinggi;

“Kedua, openness, dilihat dari google scholar seluruh dosen di UNG. Dan yang ketiga adalah excellence. kalau dari segi backlink, bisa dicek sendiri, UNG berada di atas dari Perguruan Tinggi yang dimaksud. Bahkan kita berada di atas universitas yang ada di peringkat 108 sebagaimana yang disampaikan pak Rektor,” jelas Karmila.

Prof. Karmila Machmud, S.Pd., M.A., Ph.D

Pada indikator openness, yang berkaitan dengan google scholar, ternyata ada hal yang dianggap sebagai pelanggaran. “Tapi ini bukan hal yang kita sengaja. karena pelanggaran itu terjadi ketika Akun google scholar dari dosen kita yang terafiliasi dengan domain UNG, itu tidak menaati aturannya. Nama akunnya harus seragam dan bersesuai dengan domain UNG…,”

“Kedua, ada akun yang sudah ditambah dengan embel-embel lain, semisal gelar dan sebagainya, itu tidak boleh. Dan yang paling parah adalah, ketika google scholar secara otomatis mengaupdate artikel, artikel orang lain yang namanya hampir sama dengan dosen kita itu dianggap milik dosen tersebut,” jelasnya.

Penyempurnaan

Dan sebagai upaya pembenahan dan penyempurnaan, UNG sudah membentuk tim khusus untuk mencatat hal-hal bermasalah yang ada kaitannya dengan kategori openness. “Kita scraping semua yang dianggap pelanggaran, kita hubungi satu persatu dosennya dan meminta mereka untuk melihat kembali…,”

“Jika butuh bantuan kita berikan pendampingan untuk penilaian januari nanti. Mudah-mudahan upaya kita berhasil dan kita bisa melihatnya 6 bulan ke depan,” kata Karmila.

Karmila juga menjelaskan, Webometrics bukan satu-satunya pemeringkatan yang bereputasi. “Ada juga pemeringkatan 4ICU. Di 4ICU UNG berada di peringkat 86, dan pemeringkatan lainnya UNG di peringkat 22 setara dengan University of Sydney dan universitas internasional lainnya,” tandas Karmila.(fp/habari.id)

Baca berita kami lainnya di