HABARI.ID, PEMPROV | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menekankan pentingnya peran keluarga dalam memperkuat perlindungan anak dari kekerasan. Pola asuh, nilai agama, dan keterlibatan ayah dan ibu dinilai jadi fondasi utama menciptakan lingkungan aman bagi tumbuh kembang anak.
Hal ini disampaikan Arifatul saat Rapat Koordinasi Daerah Tim Pembina Posyandu tingkat Provinsi Gorontalo yang dirangkaikan dengan penandatanganan komitmen Ruang Bersama Indonesia (RBI), Selasa (3/11/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Gusnar Ismail, para bupati, serta jajaran Tim Pembina Posyandu.
Arifatul mengungkapkan data mencengangkan. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024, satu dari dua anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Perempuan 2024 mencatat satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan. “Angka kekerasan ini bukan sekadar angka. Kita harus memberikan perhatian khusus dan menyelesaikannya bersama-sama,” tegasnya.
Menurutnya, pola asuh keluarga harus diperkuat. Perubahan lingkungan dan kedekatan anak dengan gawai menuntut orang tua menyesuaikan pola pengasuhan sesuai zaman. Pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, tapi juga ayah dan seluruh keluarga. “Pagar untuk anak-anak kita bukan pagar besi atau beton yang tinggi, tetapi pagar yang ada di dalam hati mereka, yaitu nilai-nilai agama, budi pekerti, dan akhlak mulia,” ungkapnya.
Arifatul juga mengapresiasi pelaksanaan Ruang Bersama Indonesia di Gorontalo yang dinilai jadi praktik baik dan contoh bagi daerah lain. RBI merupakan gerakan kolaboratif pemerintah dan masyarakat untuk memetakan dan menyelesaikan persoalan di tingkat desa.
Sementara itu, Gubernur Gusnar Ismail mendorong kolaborasi enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk mempercepat penurunan stunting di Gorontalo. Saat ini angka stunting Gorontalo turun dari 23 persen menjadi 18 persen. “Kalau dulu bicara Posyandu, yang dicari Kepala Dinas Kesehatan. Sekarang Posyandu sudah menjadi satu kesatuan pelayanan yang melibatkan enam bidang SPM. Seluruh perangkat daerah harus terlibat,” ujar Gusnar.
Meski turun, angka tersebut masih perlu ditekan agar mendekati rata-rata nasional. “Menurunkan angka ini bisa jadi mudah kalau kita terkoordinasi dengan baik. Menjadi sulit ketika kita tampil masing-masing,” tegas Gusnar. (adv/habari.id)






