HABARI.ID, KOTA GORONTALO I Suasana Aula SMA Negeri 1 Gorontalo tampak berbeda pada Sabtu (31/10/2026). Ratusan siswa dan tenaga pendidik berkumpul memadati ruangan, larut dalam alunan instrumen tradisional bambu dan bait-bait sastra lisan masa lampau. Melalui inisiatif bersama antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Anggota Komisi X DPR RI asal Gorontalo, Elnino M. Husein Mohi, program Semarak Budaya Gorontalo bertajuk “Goes to School” resmi digelar.
Kegiatan ini memadukan revitalisasi seni tradisi secara langsung dengan pelatihan literasi media baru. Kehadiran seni tutur tradisi lisan Tanggomo menjadi daya pikat utama yang membangkitkan kekaguman para siswa. Diiringi gemulai penari tradisional berbusana adat khas daerah serta harmonisasi musik etnik dari perkusi, instrumen Polopalo, dan dawai Gambusi, aula sekolah bertransformasi menjadi panggung kebudayaan yang hidup dan inklusif.
Anggota Komisi X DPR RI, Elnino M. Husein Mohi, yang diwakili oleh Tenaga Ahli Komisi X DPR RI, N. Syamsu Panna, S.Kom, menyampaikan bahwa program ini sengaja dihadirkan di lingkungan sekolah untuk mempersempit jarak antara generasi masa kini dengan akar budayanya.
“Kegiatan ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk terus menggali, merawat, dan memupuk perasaan cinta terhadap kebudayaan daerah di dalam dada generasi muda kita. Kita ingin memastikan anak-anak kita tidak asing dengan sastra Tanggomo, tidak canggung memainkan musik etnik, dan selalu bangga membawa identitas Gorontalo di mana pun mereka berada,” ujar Syamsu Panna saat membacakan pidato sambutan di hadapan hadirin.
Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Kepala Bidang PSMA dan Diksus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Agus Sumba. Menurutnya, pendekatan kolaboratif seperti ini sangat efektif memperkuat pilar Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi Berkebinekaan Global dan Kreatif.
“Pemerintah Provinsi Gorontalo menyambut baik kolaborasi nyata antara Komisi X DPR RI dan Kementerian Kebudayaan. Pembelajaran budaya tidak boleh hanya berhenti pada teori di lembar buku teks, melainkan harus disentuh, didengar langsung dari para penuturnya, dan dirasakan keindahannya oleh anak didik kita,” tutur Agus Sumba.
Perwakilan Balai Pelestarian Cagar Budaya (Balai Pelestarian Kebudayaan) Wilayah Gorontalo Kementerian Kebudayaan RI yang turut hadir menggarisbawahi pentingnya regenerasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Pihaknya menilai bahwa di era disrupsi informasi, tradisi lisan dan seni tradisi membutuhkan saluran komunikasi baru agar tetap relevan.
Hal ini dijawab melalui sesi workshop interaktif produksi konten promosi kebudayaan yang diikuti sekitar 100 peserta dari kalangan siswa dan guru. Para peserta diajak membedah teknik pengambilan gambar menggunakan kamera ponsel pintar, penyusunan narasi (storytelling), penyuntingan video pendek, hingga strategi distribusi konten kebudayaan di platform digital populer seperti Instagram Reels, TikTok, dan YouTube.
Melalui bekal teknis tersebut, para siswa SMAN 1 Gorontalo diharapkan tidak hanya berperan sebagai konsumen hiburan digital, melainkan bertransformasi menjadi duta budaya muda yang aktif mempromosikan pesona dan nilai luhur Gorontalo ke ruang publik digital nasional maupun global.(bm/habari.id).






