Menjaga Indonesia

JWS 2020: Menengok Keberagaman di Desa Banggili

HABARI.ID I Iring-iringan rombongan touring Jelajah Wilayah Sulawesi (JWS) terus melaju, Senin (24/2/2020) sore. Melintasi jalan panjang lurus dan mendatar, yang menghubungkan wilayah Sausu, Poso hingga Parigi, Parigi Muotong (Parimo).

Dekorasi Penjor berbaris rapi di sisi kiri dan kanan jalan. Menandakan rombongan touring JWS melintasi daerah pemukiman warga transmigran asal Bali. Hiasan yang dipakai untuk menyemarakkan hari raya Galungan itu menjadi daya tarik.

Sekaligus pelipur penat perjalanan. Hamparan sawah sejauh mata memandang. Sinar mentari yang perlahan meredup, membuat langit yang sebelumnya biru menjadi jingga. Udara yang tadinya sangat menusuk kulit, perlahan mulai terasa sejuk.

Saat memasuki Desa Banggili, Kecamatan  Banggili, Parimo, di sisi jalan terdapat sebuah plang berwarna putih dengan tulisan warna merah. Plang tersebut berupa pemberitahuan sementara dilangsungkan ibadah.

Sekitar 100 meter dari plang tersebut, sejumlah warga yang mengenakan pakaian serba putih,  duduk sambil berdoa di sebuah pura. Aktivitas warga itu menyedot perhatian rombongan touring JWS.

Rombongan memutuskan untuk singgah. Tidak lama kemudian beberapa orang tokoh agama Hindu keluar dan menyambut kedatangan rombongan yang dipimpin Gubernur Gorontalo,  Rusli Habibie.

Keberagaman
Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (dua dari kiri) saat berbincang dengan tokoh agama Hindu di depan Pura Gel-Gel, Desa Banggili, Kecamatan Banggili, Kabupaten Parimo, Senin (24/02/2020).[hms_pmprv]

Saat bertemu, Rusli yang didampingi istri, Idah Syahidah, memperkenalkan maksud dan tujuannya singgah di depan pura.

Adalah pura Gel-Gel di Desa Banggili, Kecamatan Banggili, Kabupaten Parimo yang baru saja selesai melaksanakan upacara Odalan.

Odalan memiliki makna yang dipercaya akan membawa umatnya ke dalam sebuah kehidupan beragama yang lebih baik. Upacara odalan merupakan sebuah ritual untuk menghormati Dewa yang berada di sebuah Pura.

“Kami melaksanakan upacara ini setiap enam bulan sekali. Dengan menggunakan metode perhitungan yang didasarkan pada Pakuwon Bali,” ungkap Wayan Sweta saat diwawancarai awak media, Senin (24/02/2020).

Sementara itu Ketua JK Merah Putih Community (JKMPC) H. Bakrie menyebut toleransi dan keberagaman sangat berkaitan erat dengan eksistensi komunitasnya itu. Lanjutnya, sebutan Merah Putih merupakan lambang keberagaman.(*)