Menjaga Indonesia

Berdayakan 100 Petani, HIPMI dan BPOM Produksi Hand Sanitizer

HABARI.ID I Berdayakan 100 petani aren, HIPMI Provinsi Gorontalo dan BPOM Provinsi Gorontalo berhail produksi hand sanitizer, berbahan lokal dari nira aren.

Yudi Noviandi, Kepala BPOM Provinsi Gorontalo jelaskan, pembuatan hand sanitizer dari bahan lokal dengan berdayakan 100 petani hutan, oleh HIPMI tersebut. Berawal dari pembuatan antiseptik oleh BPOM, dari minuman beralkohol Cap Tikus.

“Sebelumnya BPOM berinisiasi menciptakan hand sanitizer dari Cap Tikus, dan sudah distribusikan ke rumah sakit. Sering berjalannya waktu, upaya untuk mengembangkan produk tersebut pun berjalan dengan baik, bekerjasama dengan HIPMI..,”

“Yaitu berbahan dari nira yang di destinasi menjadi bioetanol, kemudian dikembangkan lagi menjadi hand sanitizer yang resmi. Bahkan sudah memiliki izin usaha dari Kemenkes RI, yang tepatnya legal,” ujar Yudi.

Perbedaan antara produk sebelumnya dengan sekarang, Dia ungkapkan bahwa berbahan dasar dari Cap Tikus, tidak bisa diperjual belikan. Karena Cap Tikus merupakan bahan, juga barang sitaan pihak Kepolisian.

Sedangkan yang terbuat dari aren, layak di jual. Sebab, bahan dasarnya dari tumbuhan lokal Gorontalo, yaitu Aren dari pohon nira.

“Hasil produk ini sangat aman di kulit, kadar alkohol di dalamnya 70 persen, dan ketika kita memakainya, itu cepat kering dan tidak lembab di telapak tangan. Bahan ini sudah sesuai standar WHO (World Health Organization),” terang Yudi.

HIPMI, BPOM, Hand Sanitizer.
Surat resmi berupa Sertifikat dari Kemenkes RI, sebagai bukti kelegalan produk hand sanitizer Sofie.

Sementara itu unsur HIPMI Provinsi Gorontalo, yakni Komisaris CV. Covindo Mardanitama, Taufik Akbar, yang memproduksi hand sanitizer Sofie ungkapkan.

Produk yang baru diciptakan ini, berpusat di Kabupaten Boalemo. Namun tidak menutup kemungkinkan, pihaknya akan terus mengembangkan produk terebut ke seluruh daerah di Provinsi Gorontalo.

Bahkan, di tengah pandemi Covid 19 sekarang ini, pihaknya sendiri sudah merencanakan untuk memasarkan sampai ke luar daerah dan manca negara.

“Dalam sehari kami bisa memproduksi sebanyak 100 liter hand sanitizer, dari 600 liter aren yang dari petani. Dibawah bimbingan Badan Pengawasan Obat dan Makanan, kami akan mengembangkan produk ini,” ujarnya.

Untuk harga pasaran yang dipatok oleh CV. Covindo Mardanitama, setengah dari harga hand sanitizer pada umumnya. Sehingga, produk tersebut bisa dijangkau oleh masyarakat berpengahasilan rendah.

“Menariknya, produk ini kami tidak jual di super market, mini market, mall dan ritel modern. Tetapi kami menggandeng seluruh pelaku UMKM di daerah, untuk memasarkannya. Supaya, mereka juga punya penghasilan,” tutup Taufik.

Terpisah melalui telepon selular Direktur CV. Covindo Mardanitama, Iskandar Uno juga pengurus HIPMI ungkapkan, tujuannya melibatkan UMKM dalam pemasaran produk tersebut.

Untuk menambah pelaku-pelaku usaha muda di daerah yang produktif. Dengan artian, bisa membantu pertumbuhan ekonomi daerah.

“Pengusaha hebat itu, bukan dilihat dari apa yang dia hasilkan atau produksi. Tetapi, bagaimana caranya, dia menciptakan pengusaha baru di daerah, dan hanya untuk membangun daerahnya,” tutup Direktur yang akrab disapa Ciko.(4bink/habari.id).