Menjaga Indonesia
Daerah

Erwin: Tudingan Itu Fitnah Yang Sangat Keji

Gaduh, Dugaan Mahar Politik di Pilkada Kabgor

HABARI.ID I Erwin Ismail membantah semua tudingan buruk yang menyebutkan dirinya melakukan pemerasan, berupa mahar politik. Kasus yang menyeret namanya ini, membuat dirinya harus mendatangi Bawaslu Kabupaten Gorontalo untuk melakukan klarifikasi, Sabtu (12/09/2020).

Bahkan Erwin tegaskan, tudingan tentang mahar politik yang diarahkan pelapor kepada dirinya, adalah fitnah yang sangat keji.

“Saya bilang kalau pengen maju silahkan dipersiapkan semuanya, saya maksudkan adalah semua tahapan administrasi pendaftara ke partai …”

“Eh dia mengasumsikannya mahar. Saya tak pernah bicara mahar sama dia, malah dia sendiri yang mengajukan 500 juta perkursi, meski begitu saya jawab silahkan siapkan semuanya yah berkas,” jelas Erwin Ismail saat diwawacarai Habari.Id via telepon selular.

Erwin ceritakan, kronologis awal pertemuan dirinya dengan Risno Yusuf juga merupakan pelapor, pada perkara Pilkada. Berawal saat mereka berdua bertemu di salah satu Bandara di Jakarta.

Erwin yang saat itu tengah menjalankan tugas kepartaian, yang berkaitan dengan Pilkada Gorontalo, tentu sangat terburu-buru.

Sehingga pertemuan mereka berdua di bandara, sangat singkat. Terlebih Erwin sendiri, tidak mengenal Risno bahkan baru kali itu bertemu dengan Risno.

“Saya ketemunya itu di bandara sama si Risno ini, dirinya memperkenalkan diri sebagai pengusaha cabai merah, punya rekanan 10 ribu. Tadinya mau maju di Bone Bolango sudah habis 3 Milliar, sekarang punya 40 milliar,” ucap Erwin.

“Yah saya bilang secara normatif, kalau pengen maju silahkan dipersiapkan semuanya. Saya maksudkan adalah semua tahapan administrasi pendaftara ke partai …”

“Dia mengasumsikannya mahar, saya tak pernah bicara mahar sama dia, malah dia sendiri yang mengajukan 500 juta perkursi, saya jawab silahkan siapkan semuanya berkas,”timpal Erwin.

Kemudian, pertemuan antara mereka berdua terjadi lagi. Kali ini di Senaya, yang dijembatani oleh Hamid Kuna, seorang politisi Partai Hanura.

Karena Hamid Kuna sebagai seorang kader politik, alasan terbesar dirinya mengiyakan pertemuan tersebut, sekaligus untuk melihat posisi partai Hanura yang kala itu menjadi partai paling terakhir mengeluarkan rekomendasi.

“Katanya, saya di Jakarta di Biayai oleh Risno, itu tidak benar, saya di biayai oleh partai saya. Ada juga tuduhan, saya akan mengurus 3 partai …”

“Saya jawab, saya ini hanya sekretaris Desk Pilkada yang mengurusi tentang penerimaan dan B1KWK, saya tak punya urusan untuk rekomendasi. Saya hanya bisa bantu mengkomunikasika di DPP,” kata Erwin.

Tidak hanya itu kata Putra Mantan Gubernur Gorontalo ini, bahwa dirinya tidak pernah meminta uang Rp 3,5 milir. Sebagai seorang yang ditugaskan menjadi Desk Pilkada, dirinya hanya menjawab sesuai dengan tupoksinya.

“ini Finah yang sangat Keji, bukan terus tiba-tiba saya main kucing-kucingan dan bikin koalisi baru. Jangankan Rp 3,5 Milliar, dikasih 100 milliar pun, saya tetap tak bisa urus, saya bukan posisi pemilik rekomendasi,” kata Erwin Ismail.

Dia sangat menyesalkan dengan sikap Risno Yusuf tersebut, dirinya melihat ada upaya pembunuhan karakter dan pencemaran nama baik terhadapnya. Dan untuk itu dirinya bakal membentuk Tim Kuasa Hukum untuk melaporkan Risno Yusuf.

“Ada 3 Pasal yang sudah kami kaji, pertama pencemaran nama baik, kedua fitnah yang keji, dan melakukan perekaman secara ilegal,” kata Erwin Ismail.

Dia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap RisnoYusuf. Baginya semangat berpolitik dari si pelapor merupakan hal yang baik, namun harus dapat di imbangi dengan pengetahuan politik yang sehat. “Ini namanya meludah keatas, kena ke muka sendiri,” pungkasnya.(dwi/habari.id).