Menjaga Indonesia

Tak Hanya Mampu Hadapi Kerentanan, Desa Tangguh Harus Bisa Kembangkan Potensi Kawasan

UNG Siapkan Desa Karangetan dan Desa Teratai Jadi Desa Tangguh Covid-19

HABARI.ID, POHUWATO I Tidak hanya menyangkut kemampuan mengenali kerentanan dan cara menghadapi bencana non alam Covid-19.
Konsep pengembangan Desa Tangguh Covid-19 yang dilakukan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di dua desa yang ada di kabupaten Pohuwato, juga akan berorientasi pada upaya membangun, mengorganisir, mengerahkan kemampuan dan potensi sumber daya yang dimiliki desa demi kemajuan sekaligus menghadapi kerentanan.

Desa Teratai dan desa Karangetan, yang menjadi pilot project Desa Tangguh ini, selain disiapkan untuk menghadapi ancaman dan kerentanan perebakan Covid-19, juga akan diarahkan untuk memaksimalkan potensi wilayah.

Di hadapan unsur Pemdes, Camat, Kepala Desa dan warga, Rektor UNG, Dr. Eduart Wolok, ST., MT, mengungkap hal-hal potensial yang bisa dikembangkan. Ia memulainya dari pendekatan geografis dan sosiologis.

Trip yang dilakukan wisatawan manca negara ke Tojo Una-Una, terutama ke Pulau Togean melalui Gorontalo, itu biasanya langsung nyambung perjalanan dengan kapal Ferry …,”

“Ada yang ke Luwuk, Ampana baru ke pulau Togean. Padahal, waktu tempuh dari kepulauan Togean ke Pohuwato melalui jalur laut, hanya dua jam,” ungkap Eduart.

Menurut Eduart, Pohuwato itu sebenar punya ada sesuatu yang bisa menjadi daya tarik wisatawan manca negara. Menjelaskan ini, Eduart mulai menggunakan pendekatan sosiologis.

Kabupaten Pohuwato, memiliki banyak desa yang kondisi masyarakatnya heterogen, dengan identitas etnik, agama dan budaya yang beragam.

“Kita mulai dari desa Banuroja, yang menjadi simbol dan entitas desa yang multi etnis. Salah satu daerah yang menjadi tujuan kebanyakan wisatawan asing, adalah daerah yang multi etnik yang damai …,”

“Dan dengan jarak yang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam, mereka (wisatawan) bisa menemukan desa multi etnik lainnya,” ungkap kata Eduart.

Desa Tangguh, ekonominya juga harus tangguh. Dari segi pengembangan ekonomi, potensi pertanian dan perikanan, menjadi hal wajib yang harus dikembangkan melalui pemberdayaan.

Rektor mengungkap tentang inovasi. Dengan adanya dana desa, setidaknya bisa mendorong desa untuk berinovasi.

“Dana desa itu adalah bentuk pengakuan legal formal, bahwa organisasi desa itu otonom dan penting keberadaannya. Pertanyaannya, apakah kita menjalankannya secara formalistik atau dijalankan secara fungsional,” kata Rektor.

Kalau dijalankan secara fungsional melalui pendampingan Desa Tangguh ini, maka pemanfaatan dana desa itu harus menyentuh pengembangan kapasitas organisasi, dana desa harus mensejahterakan masyarakat.

“Agar pengelolaan dana desa bisa menyentuh aspek-aspek penting ini, maka perlu ada pendampingan. Pemanfaatan dana desa harus menyentuh dan menggerakan fungsi-fungsi penting yang ada di desa …,”

“Pengembangan kapasitas organisasi, kontribusi dana desa untuk kesejahteraan masyarakat, harus terjadi di desa. Makanya kita perlu melakukan pendampingan pada program Desa Tangguh ini,” katanya.

Dengan adanya pendampingan yang dilakukan UNG, maka desa harus ada perubahan. Sistem Informasi Data Desa (Sideta) harus dikembangkan dan besar manfaatnya bagi pemerintah desa. UNG telah menyiapkan aplikasi Sideta yang akan menjadi bank data untuk desa-desa.

Di bagian akhir penyampaiannya, Rektor mengungkap tentang pengembangan sektor pendidikan pada pendampingan Desa Tangguh. Bagaimana caranya, pada suatu ketika atau sekitar 5 tahun ke depan, di Gorontalo akan ada 100 ribu mahasiswa.

Di bagian ini, Rektor menjelaskan tentang rasionalisasi bagaimana angka 100 ribu mahasiswa tersebut bisa dicapai. Dan ini ada hubungannya dengan peningkatan dan kemandirian ekonomi.

“Gorontalo masih bergantung pada belanja pemerintah. Saya sudah menyampaikan ini kepada pimpinan-pimpinan Perguruan Tinggi di Gorontalo. di Teluk Tomini ini, ada 3000 desa …,”

“Kalau setiap desa ada 30 orang yang masuk Perguruan Tinggi, maka jumlah 100 ribu mahasiswa sudah bisa dicapai. Kalau jumlah itu akan dicapai dalam 4 tahun, maka berarti cukup dengan 10 orang yang kuliah setiap tahunnya,” katanya.

Kalau ada 100 ribu mahasiswa yang kuliah di Gorontalo, dengan 80 persennya adalah mahasiswa dari luar daerah, maka ada kurang lebih 2 Trilyun uang yang masuk di Gorontalo.(rls/fp/habari.id)