Cara Guru Berbicara Ternyata Mempengaruhi Cara Siswa Berpikir

oleh
oleh
foto istimewa.

HABARI.ID, KAMPUS I Selama ini, keberhasilan belajar siswa sering dikaitkan dengan kualitas materi ajar, metode pembelajaran, atau fasilitas pendidikan. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada faktor lain yang tak kalah penting: cara guru berbicara di dalam kelas. Ucapan guru, yang selama ini dianggap sekadar bagian dari interaksi biasa, ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan berpikir siswa.

Penelitian berjudul “Peran Tindak Tutur Guru dalam Pencapaian Level Kognitif Siswa: Studi Kognitif Pragmatik” yang dipimpin oleh Adriansyah Abu Katili bersama Suleman Bouty mengungkap fakta menarik ini. Studi tersebut menyoroti bagaimana tindak tutur—atau bentuk ujaran yang digunakan guru—dapat memengaruhi pencapaian level kognitif siswa berdasarkan Taksonomi Bloom.

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Suwawa Tengah dengan pendekatan kualitatif melalui analisis wacana pragmatik. Para peneliti mengamati langsung interaksi di kelas, merekam percakapan antara guru dan siswa, lalu menganalisisnya menggunakan teori tindak tutur dari J. L. Austin dan John Searle, serta mengaitkannya dengan revisi Taksonomi Bloom oleh Lorin Anderson dan David Krathwohl.

Hasilnya menunjukkan bahwa ujaran guru di kelas didominasi oleh dua jenis utama: asertif dan direktif. Tindak tutur asertif biasanya berupa penjelasan atau pernyataan informasi, sementara direktif mencakup pertanyaan dan instruksi. Menariknya, bentuk-bentuk ujaran ini tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga secara langsung memengaruhi kemampuan kognitif siswa.

Misalnya, pertanyaan yang diajukan guru dapat mendorong siswa untuk mengingat (C1), memahami (C2), hingga menerapkan (C3) pengetahuan. Begitu pula instruksi yang jelas dapat membantu siswa mengorganisasi pemikiran dan menyelesaikan tugas dengan lebih terarah. Sebaliknya, jika komunikasi kurang efektif, proses berpikir siswa juga dapat terhambat.

Temuan ini menegaskan bahwa bahasa adalah alat pedagogis yang sangat kuat. Setiap kalimat yang diucapkan guru memiliki potensi untuk membentuk cara siswa memahami dunia. Dengan kata lain, proses belajar tidak hanya terjadi melalui apa yang diajarkan, tetapi juga melalui bagaimana hal itu disampaikan.

Dari sudut pandang praktis, penelitian ini menjadi pengingat penting bagi para pendidik. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga tentang membangun interaksi yang mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam. Guru perlu lebih sadar dalam memilih kata, merancang pertanyaan, dan memberikan arahan agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna.

Pada akhirnya, kelas bukan hanya ruang transfer ilmu, tetapi juga ruang dialog. Di dalamnya, kata-kata guru dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan pemahaman, sekaligus membuka jalan bagi berkembangnya kemampuan berpikir siswa secara optimal.(bm/habari.id).

Baca berita kami lainnya di