Menjaga Indonesia

Sederhanakan Jenjang Pendidikan Bisa Atasi Tingginya Angka Putus Sekolah

HABARI.ID I Banyak faktor yang jadi penyebab rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Salah satunya adalah masih tingginya angka putus sekolah. Masalah klasik dunia pendidikan di Indonesia ini, menurut Bupati Gorontalo Prof. Nelson Pomalingo, hingga saat ini belum ada solusi konkritnya. Nelson punya solusi; sederhanakan jenjang pendidikan.

“Banyak anak-anak yang putus sekolah hanya lantaran jarak rumah dan sekolah yang terlalu jauh. Saat masih di jenjang sekolah dasar (SD), jarak antara sekolah dan rumah mungkin dekat …,”

“Tapi begitu masuk jenjang SMP, jaraknya sudah lebih jauh dan sulit dijangkau terlebih bagi anak-anak yang tinggal di pelosok desa. Alasan ini pula yang terkadang mengendorkan niat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang berikutnya,” ungkap Bupati Gorontalo Prof. Nelson Pomalingo.

Nelson mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah. Kondisi ini berdampak pada tingkat percepatan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Maksimalkan Pendidikan Informal, Ini Yang Dilakukan Nelson …

Tingkat pengangguran di Gorontalo memang rendah. Namun, sesuai data, pendapatan masyarakat masih jauh dari cukup. Hal ini dilatarbelakangi masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Menurut Nelson, perlu ada “formula baru” dan kebijakan baru pendidikan, yang setidaknya bisa menjadi solusi atas berbagai kerumitan yang menyebabkan anak putus sekolah.

“Berbagai faktor yang menjadi pemicu putus sekolah, dapat ditekan dengan mengubah standar alur pendidikan …,”

“3 jenjang pendidikan kita, harus dapat disederhanakan. Cukup dengan 2 jenjang pendidikan saja,” kata mantan Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini.

Prof. Nelson mengungkapkan, secara kuantitas, lulusan SD itu jauh lebih banyak dibandingkan jumlah lulusan SMP.

“Makanya harus ada formula baru. Kurikulum SD dan SMP harus dibuat menjadi satu atap, atau diformalkan menjadi satu tahapan,” jelas Nelson Pomalingo.

Menurut Nelson, Hal ini memungkinkan untuk dilakukan. Karena dalam UU Sistem Pendidikan, hanya memuat sekolah tahap dasar dan sekolah tahap menengah, selanjutnya ke Perguruan Tinggi.

Dengan penggabungan SD dan SMP, akan memberi kesempatan yang lebih besar bagi siswa untuk melanjutkan pendidikannya.

“Bukan kurikulum yang diubah. Tapi lembaganya yang disatukan, menjadi satu atap. Pendidikan dasar terkait moral, dan pendidikan formal dapat difokuskan menjadi 9 tahun,” jelas Nelson Pomalingo.

Baginya, dengan penggabungan ini juga bisa menimalisir masalah anggaran pembangunan sekolah untuk jenjang SMP.

“Menyeimbangkan jumlah sekolah dasar dan sekolah SMP, kita terkendala dengan biaya,” ungkap Bupati Nelson Pomalingo.

Dengan penggabungan dua jenjang sekolah, akan terjadi efisiensi pada pemanfaatan tenaga pendidikan, dan sekaligus menekan anggaran penyelenggaraan pendidikan dasar.

“Ijazah SD sekarang sudah tidak terlalu digunakan, maka lebih baik bikin sistem penggabungan. Nanti setelah 9 tahun sekolah, baru bisa dapat ijazah,” jelas Bupati Nelson Pomalingo.

Meski baru sebatas wacana, ia berharap gagasan ini bisa dibawa hingga ke tingkat pusat. Jauh sebelum menjadi Bupati, Prof. Nelson Pomalingo lama berkecimpung di dunia pendidikan.

Sebagai mantan Rektor, ia banyak tahu problem pendidikan sekaligus mencoba untuk mencari jalan keluarnya.

Jika ada masalah pendidikan di tingkat lokal, maka solusi yang ada bisa dengan segera ditindaklanjuti melalui kebijakan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai Bupati.

Tapi dalam beberapa hal, implementasi solusi terhadap masalah pendidikan, hanya bisa dijangkau dengan kewenangan kementerian atau pemerintah pusat.

“Gagasan dari Gorontalo ini mudah-mudahan dapat membantu menyelesaikan masalah tingginya angka putus sekolah di Indonesia,” kata Prof. Nelson.(dwi/habari.id)