Sebelum Terseret Arus dan Tenggelam, Alim Sempat Melambai Tangan Minta Tolong

oleh
Tim Rescue Pos SAR Marisa Provinsi Gorontalo, saat menemukan korban hanyut di sungai Desa Olimohulo Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo.

HABARI.ID, GORONTALO – Sebelum terseret air sungai Desa Olimohulo, Kecamatan Asparaga Kabupaten Gorontalo, Alim Maksum (18), sempat melambaikan tangan meminta tolong kepada warga yang masih berada di bantaran sungai tersebut.

Sayang, isyarat itu tidak dilihat warga. Sehingga Kamis (1/8/2019) sekitar pukul 15.00 WITA, korban pun terbawa arus sungai dan dinyatakan hilang selama dua hari.

Jefri Mewo, Kepala Search And Rescue (SAR) Provinsi Gorontalo mengatakan, korban ditemukan tidak bernyawa saat dilakukan pencarian Sabtu (3/8/2019) oleh tim Rescue Pos SAR Marisa.

Korban ditemukan tidak jauh dari lokasi. Sekitar 500 meter dari tempat di mana korban terseret arus lalu tenggelam. Informasi kejadian orang hanyut ini diterima SAR Gorontalo sehari sebelum pencarian dimulai, Jumat (2/8/2019) pagi sekitar pukul 10.00 WITA, melalui telepon selular dari aparat desa setempat.

“Dari pengakuan keluarga korban kepada tim Rescue Pos SAR Marisa Provinsi Gorontalo, kronologi kejadian ini bermula saat korban tengah asik memancing ikan di sekitaran sungai,” ujar Jefri.

Tiba-tiba korban terjatuh ke sungai, dan sempat melambaikan tangan meminta pertolongan warga, kemudian hanyut terbawa arus sungai. Mengetahui korban sudah hanyut, warga setempat pun melakukan pencarian. Tapi upaya itu tidak berhasil.

Sehingga Jumat (2/8/2019) pihak keluarga dan masyarakat meminta aparat desa menghubungi tim Rescue Pos SAR Marisa Provinsi Gorontalo, diminta lakukan pencarian terhadap jasad korban.

Korban yang ditemukan sudah tidak bernyawa, langsung dimasukkan dalam kantong mayat, dan dibawa ke tepian sungai dengan menggunakan tali yang dibantu oleh nelayan setempat.

“Pesan kami kepada masyarakat Provinsi Gorontalo, untuk terus waspada dalam melakukan aktivitas. Sekalipun anda sudah merasa aman dan nyaman, tetap harus berpikir kritis tentang aktivitas yang akan dijalani, karena setiap aktivitas itu memiliki resiko yang berbeda-beda, seperti kejadian yang dialami korban,” tutup Jefri.(4bink/habari.id)

Baca berita kami lainnya di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *