Perwalian Kelas: Risman Taha Siswa Cerdas dan Aktif

oleh
risman
Risman Taha.
banner 468x60

HABARI.ID, KOTA GORONTALO I SMA Negeri 2 Gorontalo adalah tempat dimana Risman Taha menuntut ilmu. Banyak kisah yang diceritakan Ben Idrus, Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Kota Gorontalo, saat masih berstatus sebagai guru dan menjadi perwalian Risman Taha disaat itu.

Mulai dari keaktifan Risman Taha di berbagai kegiatan organisasi baik OSIS, Pramuka dan Pecinta Alam, kecerdasan Risman diatas nilai rata-rata 80 sampai dengan cerita kenakalan remaja baik dengan guru-guru dan teman seusianya kala itu.

banner 468x60

“Risman Taha adalah siswa saya, saat Ia masih duduk di bangku sekolah SMA Negeri 2 Gorontalo. Saat masih kelas I SMA, Risman adalah siswa yang aktif mengikuti pelajaran saya, fisika ..,”

“Karena kecerdasannya diatas rata-rata, maka Ia memilih masuk jurusan IPA yang di dominasi ilmu-ilmu eksakta. Dan selama duduk di bangku kelas Ia, kompetensinya sudah sangat terlihat,” ujar Ben Idrus di ruang kerjanya.

Meski tergolong siswa yang cerdas, Risman termasuk siswa yang bisa dikatakan nakal di sekolah. Kenakalannya bukan merusak fasilitas sekolah atau tawuran, tetapi tidak mau mengerjakan tugas guru dengan tepat waktu, padahal Ia mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.

“Saat saya sebagai perwaliannya Risman, sebelum masuk ruang kelas saya harus menyusuri seluruh sudut sekolah, mencari keberadaan mereka untuk diajak masuk kelas ..,”

“Nakalnya itu, bukan berkelahi dengan siswa lain, merusakan fasilitas sekolah atau tawuran. Tetapi nakalnya Risman di pelajaran, tugas yang diberikan guru-guru malas Ia kerjakan disaat itu juga ..,”

banner 468x60

“Sekali lagi saya sebut, Risman adalah siswa yang sangat aktif dan cerdas. Dan Ia sangat menyukai pelajaran yang menantang seperti matematika, Fisika dan Kimia ..,”

“Ada kisah, dimana saya mendapatkan laporan dari guru-guru bahwa Ia tidak menyelesaikan seluruh tugasnya. Saya pun langsung mencarinya dan menghukumnya di Laboratorium, yakni ruang kelas perwalian saya saat itu ..,”

“Semua tugas dari guru-guru lain termasuk tugas yang saya berikan, saya minta Ia selesaikan dan catat disaat itu. Bahkan, untuk mencegah agar Risman tidak lari atau keluar kelas, saya sendiri yang menyiapkan makanannya yang saya beli di kantin sekolah ..,”

“Kalau hanya mau makan yang jadi kau punya alasan, ini Pak Guru sudah sadia kau punya makanan. Asalkan kau selesaikan dan mencatat semua tugas ini, begitu kata saya kepada Risman ..,”

“Dan akhirnya, semua tugas yang diberikan guru-guru mampu Ia selesaikan meski saat itu sampai sore hari saya menghukumnya di ruang kelas,” terang Ben Idrus.

Pengurus OSIS yang Aktif di Pramuka dan Masuk Kelompok Ilmiah Remaja

JIWA aktivis sudah tertanam dalam diri Risman Taha sejak Ia masih duduk di bangku sekolah. Ia begitu aktif baik sebagai pengurus OSIS, kegiatan Pramuka saat masih duduk di bangku sekolah kelas II SMA Negeri 2 Gorontalo, bahkan masuk dalam kelompok ilmiah remaja.

Ben Idrus yang sempat menjadi perwalian Risman Taha, matanya berkaca-kaca ketika menceritakan sosok Risman Taha.

“Meski sebagai siswa yang nakal, Risman adalah siswa yang turut membanggakan sekolah, karena Ia adalah siswa yang masuk dalam kelompok ilmiah remaja dan mampu berkompetisi,” ungkapnya.

Ben Idrus yang saat itu memiliki tanggungjawab penuh terhadap siswanya termasuk Risman Taha, sangat mendukung Risman masuk dalam berbagai organisasi sekolah.

“Saya sangat mendukung dan memotivasi mereka, dan Risman juga masuk sebagai peserta siswa pencinta alam ..,”

“Ada kisah dimana saya bertekad untuk merubah Risman. Saat itu tidak ada guru-guru yang mau menjadi perwaliannya ..,”

“Maka saya sampaikan kepada guru-guru, berikan kepada saya si Risman. Dengan alasan, saya yakin Risman bisa berubah ..,”

“Keyakinan itu saya iringi dengan cara pendekatan saya kepada mereka, sampai dengan keluarga mereka. Sempat saya berkunjung ke rumahnya Risman, berbicang dengan keluarganya ..,”

“Bahkan, ketika waktu mau berangkat sekolah, saya melihatnya hanya berjalan kaki, saya ajak Ia naik motor sampai ke sekolah. Dan Alhamdulillah, siswa-siswa saya sukses termasuk Risman Taha,” jelas Ben Idrus.

Ben Idrus Panik Risman Pingsan

RISMAN Taha kata Ben Idrus, adalah salah satu siswa yang Ia sayangi dan banggakan. Karena begitu aktif dan cerdas, sehingga sering mengangkat nama baik kelas perwalian Ben Idrus.

Suatu ketika pada jam pelajaran olahraga, Ben Idrus panik mendengar informasi bahwa salah satu siswanya pingsan saat berolahraga, dan itu bukan lain adalah Risman Taha.

“Teman-temannya Risman, langsung memanggil saya saat itu mereka mengikuti pelajaran olahraga. Mereka (siswa) katakan, Risman pingsan. Saya pun panik takut terjadi apa-apa sama siswa saya, karena mereka tanggungjawab saya,” ungkap Ben Idrus.

Namun, setelah mendatangi dan melihat langsung kondisi Risman di lapangan olahraga, seketika kepanikan Ben Idrus redah melihat Risman yang begitu cepat sadarkan diri.

“Awalnya saya panik sekali, karena siswa saya yang pingsan dan itu Risman Taha. Saya temukan di lokasi olahraga, teman-temannya sudah berkupul dan memijit-mijit badannya Risman. Eh.. ketika sadar Risman katakan, kalau Ia hanya pura-pura pingsan supaya bisa dipijit-pijit teman-temannya,” terang Ben Idrus sambil tertawa.

Risman Jadi Anggota DPRD, Ben Idrus Jadi Kadis

BEN Idrus tidak sia-sia mendidik Risman Taha saat masih duduk di bangku sekolah SMA Negeri 2 Gorontalo. Betapa tidak, perjalanan karir Ben Idrus sebagai aparatur sipil negara yang Ia rinstis dari bawah, ternyata seiring sejalan dengan perkembangan karir Risman.

Waktu pun mempertemukan mereka dalam kepentingan yang sama, yakni untuk membangun daerah dan mensejahterakan masyarakat. Risman Taha sebagai anggota Banggar DPRD Kota Gorontalo saat itu, dan Ben Idrus merupakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo.

Menariknya ada cerita unik dari dua jabatan strategis yang diemban Risman Taha dan Ben Idrus saat itu.

Dimana Risman Taha memperlakukan Ben Idrus, seperti Ben Idrus memperlakukan Risman Taha ketika dihukum dalam Laboratorium IPA SMA Negeri 2 Gorontalo.

“Waktu itu saya Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo dan Risman Taha sebagai anggota Banggar DPRD Kota Gorontalo. Karena saya berpikir Risman adalah siswa saya, maka saya ketemu dengan dia di DPRD Kota Gorontalo ..,”

“Tiba-tiba Risman tanyakan apa yang sedang saya pegang, dan apa yang saya butuhkan untuk sekolah dan dinas. Bahkan Risman meminta saya untuk mencatat semua kebutuhan itu, dan saya pun mengikuti apa yang disampaikan Risman ..,”

“Karena sudah cukup lama serta sudah banyak kebutuhan yang saya catat, tiba-tiba Risman katakan bahwa yang saya catat itu sudah ada di dokumen yang ia punya ..,”

“Hanya saja, Ia ingin melakukan apa yang pernah saya lakukan sama dia waktu masih duduk di bangku sekolah dulu. Yaitu meminta Risman mencatat semua tugas, dan setelah itu kami berdua pun tertawa ..,”

“Dari semua kisah sosok Risman Taha yang juga siswa saya, ada kebanggaan tersendiri dari diri saya. Yaitu melihat mereka sudah sukses, bisa menjadi panutan masyarakat. Bahkan saya merasa bersyukur, apa yang saya berikan melalui pendidikan itu tidak sia-sia. Terima kasih siswa-siswiku, anak-anakku,” pungkas Ben Idrus sembari mengusap pipinya yang basah oleh air mata.(bnk/habari.id).

Baca berita kami lainnya di

Tinggalkan Balasan