Nyambi

oleh
Muzaitun Mukadji

Muziatun Mukadji

Penulis adalah dosen tetap pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo

Beberapa waktu lalu saya terlibat sebuah percakapan yang cukup menarik dengan salah satu rekan yang kebetulan juga adalah pimpinan saya di Fakultas – kami adalah dosen dengan status Aparatur Sipil Negara (baca: PNS bagi sebagian orang yang susah move on) di salah satu universitas negeri di ibukota provinsi tercinta ini, Gorontalo.

Kebetulan pula beliau adalah senior saya setahun ketika menimba ilmu di jenjang S1 diawal tahun 2000an  – kami begelar S.Pd (Sarjana Pendidikan), alumni di universitas tempat kami bekerja kini. Gelar S2 dan S3 kamipun kami peroleh di negara Kangguru; Australia, walau bertautan waktunya dan dengan gelar yang berbeda – beliau berfokus dalam bidang pendidikan; M.Ed, dan saya applied linguistics; M.App.Ling (Master linguistik terapan yang terkadang disangka orang-orang “Master Aplikasi Lingkungan”).

Untuk gelar Ph.D (bahasa Inggris: Doctor of Philosophy), saya lebih senior beberapa tahun dari beliau, karena saya lulus dan resmi menyandang gelar tersebut ditahun 2017, sedangkan beliau ditahun 2020.

Anyway, percakapan kami tersebut lumayan singkat, namun gaungnya didalam hati dan fikiran saya  begitu besar bak kenangan mantan pacar yang tak kunjung hilang meskipun telah bertahun-tahun termehek-mehek untuk dilupakan – yah saya tak yakin ada pribadi yang mudah melupakan seseorang, terlebih lagi jika seseorang tadi adalah sosok yang telah banyak menemani kita melewati lembar demi lembar memori hidup, meskipun hal itu subyektif depends on each person personality.

Paulo Coelho, seorang novelist dan intelektual berkebangsaan Brazil yang fikirannya menjadi fenomenal sepanjang masa karena paling banyak dibaca dan dicari orang di seantero dunia – kita bisa dengan mudahnya menemukan quote-quotenya di mesin pencari Google, pernah berkata “I think it’s important to realize you can miss something, but not want it back.”.

Terjemahannya bisa dipahami bahwa sebagai manusia ada masa dimana kita bisa saja merindukan dan mengenang sesuatu, seseorang, sebuah tempat ataupun sebuah momen yang telah usai. Namun bukan berarti kita harus kembali ke masa itu, maupun memilikinya kembali.

Kembali ke laptop! Percakapan singkat kami itu membahas tentang teman-teman kuliah kami yang pada umumnya telah menjadi guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh wilayah yang ada di Provinsi Gorontalo. Beberapa diantaranya selain berprofesi sebagai Guru Bahasa Inggris, juga nyambi berbagai usaha lainnya.

Ada yang menjadi pengusaha tambak udang di area Pohuwato, menjadi pengusaha bunga, pemilik usaha simpan pinjam, pedangang sukses, pemilik rumah makan, sopir Grab dan lain sebagainya.

Nyambi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “sambi” yang diserap dari bahasa Jawa. Ada dua makna kata “menyambi”, yang pertama dapat diartikan sebagai melakukan pekerjaan lain di samping pekerjaan pokok pada waktu senggang.

Sementara makna kedua adalah melakukan kegiatan rangkap. Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada dua unsur utama pada kata “menyambi”: (1) pekerjaan dan tanggung jawab inti/utama/pokok (2) pekerjaan tambahan/sampingan/bukan utama.

Jika ditilik lebih lanjut, berbagai usaha sampingan teman-teman kami ini tidak berkaitan dan bersinggungan langsung dengan “Bahasa Inggris” yang merupakan gelar akademik akhir mereka – profesi utama. Bisa diasumsikan bahwa tingkat kreatifitas mereka sangatlah tinggi.

Terbukti mampu menyeriusi sesuatu yang tidak mereka pelajari sebelumnya dibangku pendidikan. Namun, hal ini understandable bila mengingat “the only source of knowledge is experience” menurut Albert Einstein – “satu- satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman”.

Pengalaman yang mereka milik akan sesuatu yang mereka geluti membentuk sebuah keseriusan dan kesanggupan untuk mengelola usaha tersebut. Sehingga mendatangan pemasukan yang sesuai dengan apa yang menjadi target semula untuk terjun ke usaha tersebut.

Selain pegalaman, ada faktor-faktor lain yang menjadi penunjang keberhasilan seseorang nyambi. Konsep passion; dipahami sebagai gairah, kegigihan dan semangat besar, atau juga diartikan sebagai kegemaran jika kita cari padanan katanya dalam kamus.

Passion ini sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang saat menggeluti apa yang saya jadikan pelesetan sebagai UMEGAUsaha Menambah Gaji (sinonim nyambi).

Konsep passion itu sendiri telah dibuktikan oleh Benjamin Franklin; seorang figur besar Amerika yang muliprofessional dan juga dikenal sebagai salah satu dari tujuh the principle founding fathers of the United States of America bersama dengan George Washington, Thomas Jefferson, John Adams, Alexander Hamilton, John Jay dan James Madison.

The principle founding fathers of the United States of America itu sendiri adalah sebuah kelompok gabungan dari beberapa pemimpin besar Amerika diakhir abad ke 18 saat revolusi Amerika pecah.

Mereka mampu menyatukan 13 koloni dan mendeklarasikan kemerdekaan Amerika dari Inggris. Merekalah yang menyusun kerangka awal pemerintahan dan konstitusi Amerika sebagai sebuah negara yang baru  berdiri.

Benjamin Franklin terkenal sebagai seorang penulis, ilmuwan dan negarawan. Penulis, ilmuwan dan negarawan hanyalah segelintir profesi yang beliau geluti dan menjadi sukses karenanya.

Beliau juga merupakan seorang wartawan, penerbit, penemu, filantropis, diplomat dan lain sebagainya, betul-betul seorang multitalenta hidup yang sukses dengan segala profesinya!.

Berdasarkan pengalaman pribadinya tersebut, Benjamin Franklin berasumsi bahwa “If passion drives you, let reason hold the reins” – jika gairah memacu anda, biarkan akal memegang kendali!

Dilatarbelakangi pernyataan Benjamin Franklin tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesuksesan seseorang didalam melakukan sesuatu bergantung pada semangat, niat, gairah dari dalam diri.

Hal-hal tersebut haruslah direalisasikan dengan tindakan-tindakan yang mampu menjadikannya sebagai sesuatu yang bukan hanya eksis dalam fikiran. Tetapi memang benar-benar membuahkan hasil seperti apa yang dicita-citakan, bahkan ketika mereka tidak memiliki pengetahuan khusus akan hal tersebut. Walaupun untuk pencapaian maksimal, perpaduan antara pengetahuan, passion dan pengalaman akan jauh lebih ideal.

Filsuf besar Yunani, Aristotle dalam tafsirnya The Nicomachean Ethics – tulisan yang berisi doktrin-doktrin kebajikan dan karakter moral yang diajarkan Aristotle, menulis bahwa “for the things we have to learn before we can do them, we learn by doing them”.

Kalimat tersebut dapat diartikan sebagai berikut: “untuk hal-hal yang harus kita pelajari sebelum kita dapat melakukannya, kita belajar dengan melakukannya”. Banyak orang yang lebih nyaman mengasosiasikan hal ini dengan istilah yang lebih trend sebagai “learning by doing”.

Jika kita tidak memiliki kemampuan yang mumpuni atas sesuatu, cukup belajar dari melakukan sesuatu hal tersebut sehingga pengalaman akan kita peroleh dengan sendirinya. Layaknya pepatah “lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena diturut!”.

Selain passion, pengalaman dan kemampuan belajar independen, faktor lucky alias keberuntungan juga sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang ketika nyambi yang tidak berkaitan dengan profesi utamanya.

Beda cerita ketika seseorang nyambi pekerjaan yang sangat erat kaitannya dengan pekerjaan utamanya, misalkan seorang guru bahasa Inggris di sekolah negeri yang nyambi sebagai penerjemah disebuah lembaga bahasa. Pekerjaan utama dan pekerjaan sambilannya tidak terlalu jauh perbedaan kajiannya.

Tapi bagaimana rekan saya tadi? Seorang guru bahasa Inggris yang nyambi sebagai pengusaha udang yang incomenya besar? Nah si Lucky bisa saja berandil besar! Garis tangan yang membawa kepada keberuntungan dan kesuksesan.

Sesungguhnya kombinasi yang tepat antara kemampuan dan kesempatan sangat menentukan. Napoleon Bonaparte pernah berkata “ability is of little account without opportunity.” – kemampuan tanpa kesempatan tidak akan berarti apa-apa.

Daya juang untuk bertahan hidup yang tinggi, akibat tuntutan dan kebutuhan hidup mengharuskan banyak orang untuk nyambi, termasuk para guru bahasa Inggris. Tidak masalah sebenarnya, with one condition: nyambi tidak mengesampingkan tugas utama sebagai pengajar, sehingga kualitas pendidikan tidak nyungsep.

Masa depan generasi muda untuk membangun negara ada ditangan guru. Tidak lucu jika guru sibuk nyambi untuk masa depan keluarganya, namun masa depan bangsa keteteran. Cukuplah kisah guru Oemar Bakri eksis di lirik lagu Iwan Fals, jangan di dunia nyata.***

Baca berita kami lainnya di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.