Lead Talks di Kemendagri, Wagub Idah Bicara Pengarusutamaan GEDSI dan Kepemimpinan Perempuan

oleh
oleh
Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, saat jadi narsumber pada podcast di Kemendagri RI.(f/istimewa).

HABARI.ID, PEMPROV I Eksistensi Idah Syahidah Rusli Habibie, sebagai Tokoh Perempuan Provinsi Gorontalo, memberikan pengaruh baik dan positif terhadap masyarakat jauh sebelum Ia diamanahkan sejumlah jabatan baik itu di organisasi, politik dan birokrasi. 

Ketokohan Srikandi Bumi Serambi Madinah yang juga Wakil Gubernur Gorontalo itu, terus dikenal sampai ke tingkat pusat. Karena keatifannya di berbagai kegiatan baik itu kemasyarakatan, organisasi, lembaga dan pemerintahan. 

Bahkan saking aktifnya di berbagai kegiatan, Idah Syahidah Rusli Habibie sendiri sering menghadiri kegiatan masyarakat termasuk perempuan, generasi muda dan kegiatan digelar kelompok penyandang disabilitas, di luar daripada agenda pemerintahannya sebagai Wakil Gubernur Gorontalo.

Inilah salah satu nilai positif dan sebuah alasan utama, kenapa seluruh masyarakat di Provinsi Gorontalo begitu kenal dengan sosok Idah Syahidah Rusli Habibie, sampai-sampai memberikan sebuah jargon paten yakni Torang Pe Ibu.

Kaitan dengan hal tersebut, Idah Syahidah Rusli Habibie pun menarik perhatian Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri) RI, dan mengundang Idah Syahidah Rusli Habibie dalam podcast berjudul Lead Talks Seri 2 Pengarusutamaan GEDSI.

Pemahaman dan pengetahuan yang Ia miliki, membuat Idah Syahidah Rusli Habibie menguasai topik dialog yang menjadi tema pada podcast lead talks di Kemendagri RI, yakni Kepemimpinan Perempuan dalam Tata Kelola Pemerintahan Daerah.

Secara terpisah melalui telepon selular Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie sampaikan, ada banyak hal yang Ia bicarakan dalam podcast di Kemendagri RI tersebut.

Mulai dari tentang peran perempuan dalam dunia politik, birokrasi dan di tengah masyarakat sampai bicara tentang GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), atau dalam bahasa Indonesia disebut Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial.

“Sering kali kita mendengar bahwa keterlibatan perempuan di birokrasi atau politik, hanya pemenuhan kuota formalitas belaka. Padahal, ketika perempuan memegang kendali kepemimpinan, keputusan publik yang diambil menjadi jauh lebih inklusif, komprehensif, dan peka terhadap kebutuhan seluruh kelompok masyarakat. Termasuk kebutuhan anak-anak, penyandang disabilitas, hingga lansia,” ungkap Idah.

Lanjut Idah Syahidah Rusli Habibie, dalam mewujudkan keadilan gender, disabilitas dan inkluasi sosial atau GEDSI khususnya dalam sistem tata kelola pemerintahan, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius. Apalagi dirinya sebagai pemimpin perempuan, dalam Pemerintahan Provinsi Gorontalo.

“Sentuhan inklusi itu sangat penting, apalagi kepemimpinan perempuan seperti saya tentu membawa perspektif emosional yang kuat, ketelitian dan empati yang tinggi dalam birokrasi. Kemudian kepemimpinan perempuan dalam birokrasi membawa keseimbangan kebijakan ..,” 

“Karena perempuan cenderung lebih peka terhadap isu-isu domestik dan sosial, seperti kesejahteraan keluarga, pemenuhan gizi anak, perlindungan perempuan dan anak serta hak kelompok disabilitas. Sementara representasi nyata, kehadiran perempuan di pemerintahan membuktikan bahwa ruang publik di Gorontalo semakin terbuka dan setara untuk siapa saja yang kompeten,” papar Wagub Idah.(bm/habari.id).

Baca berita kami lainnya di