Menjaga Indonesia

Golkar Butuh Orang yang Mau Bertungkus Lumus

SELEPAS magrib saya tiba di rumah, Rabu (04/03/2020), diantar seorang teman dengan motor milik teman lainnya. Sebenarnya, ada niat dia mengantar saya dengan mobilnya. Tapi itu dibatalkan dengan alasan yang bisa dimaklumi. “Cari angin, bang…”, kilahnya.

Belum sempat membuka pagar, seseorang berteriak, menyapa dari seberang jalan yang masih ramai kendaraan. Karena takzim, saya luangkan waktu untuk bercakap dengannya.

Dia bertanya soal Musda Partai Golkar. Sedikit heran saya dengan pertanyaan itu. Tumben dia menanyakan hal serius. Tapi saya tetap melayani meski kantuk mendera karena lelah.

“Sudahlah!, biarkan Rusli pimpin Golkar lagi,” katanya, menyimpulkan dan menutup pembicaraan kurang lebih 20 menit itu. Dan, sambil lalu dia bersenandung. Itu memang kebiasaannya. Semua orang di sekitar situ, tahu itu. Namanya Ian.

5 menit kemudian, saya merebah tubuh di tempat tidur. Seperti biasa. Saya tidur dengan bantal guling. Belum juga mata terpejam, saya terpaksa merogoh gawai di bawah bantal yang tak berhenti berdering karena notifikasi pesan masuk, dan menengoknya sekejap.

Di antara banyak grup WhatsApp, saya mendapati satu tulisan di media daring yang saya anggap menarik.

Menarik karena memuat komentar seorang pengamat politik nasional tentang Musda Golkar Gorontalo. Bayangkan, saking “seksinya” Musda Partai Golkar di Gorontalo, dinamikanya terpantau pengamat politik level nasional!.

Sebagai pengamat politik, komentarnya normatif. Dia menyorot titik paradoks; benturan antara aturan partai dan fakta sebagaian besar kader Golkar Gorontalo yang masih menginginkan Rusli Habibie memimpin Golkar Gorontalo 3 periode.

Segala tetek bengek menyangkut aturan partai yang tidak membolehkan seseorang memimpin 3 periode, disentilnya. Dikemas apik ulasannya.

Usai mencerna artikel itu, saya teringat dengan perbincangan 20 menit bersama Ian. Ian sempat mengungkap beberapa fakta, yang paling tidak, menjadi ukuran seseorang layak memimpin partai.

Singkat-singkat yang diungkapnya, tapi butuh sedikit kesabaran dan energi untuk bisa menterjemahkan maksudnya.

“Pertama, harus punya power (kekuatan, kekuasaan). Tidak boleh lombo (lemah) …,” kata Ian. Saya lalu menterjemahkan maksudnya sebagai posisi Rusli Habibie yang masih menjabat sebagai Gubernur Gorontalo.

Lanjut Ian, “Kedua, masih disukai banyak orang”. Adalah fakta kalau Rusli memang masih diinginkan memimpin partai berlambang Pohon Beringin itu.

“Ketiga, kebijakan ajaib partai,” katanya. Hal ketiga ini, saya belum mendapatkan faktanya. Nanti di enam jam kemudian, setelah terlelap, saya baru mendapatkan fakta itu.

Saya mendapati picture dokumen surat rekomendasi dari DPP Partai Golkar, yang menyetujui Rusli maju sebagai calon ketua DPD I Golkar di salah satu grup WhatsApp, juga ada media online yang menayangkan berita tentang Rusli yang boleh maju sebagai Ketua DPD I Golkar untuk ketiga kalinya.

Sebagai wartawan, saya telah melewati moment politik penting. Banyak informasi yang berseliweran di media sosial tentang Rusli Habibie, terlewatkan.

Soal Rusli, tak hanya menyita perhatian “orang biasa” seperti Ian. Tapi juga pengamat politik. Pengamat politik level nasional!.

Cerita mengenai Rusli yang lolos dari lubang jarum, ini menjadi yang kesekian kalinya. Mendapatkan Hak Diskresi dari Ketua Umum DPP Golkar adalah celah kecil. Dan untuk mendapatkannya, bukan perkara gampang.

Golkar di Pusat, tidak sedang mendorong batu di pinggir tebing yang terjal. Mungkin saja, sedang ingin menaklukkan gunung yang tinggi.

Kemungkinan lainnya DPP Golkar memberi rekomendasi itu, atas kajian hubungan politik teritori, lokal dan regional (geopolitik).

Seorang teman menyebutkan, Rusli menjadi benteng terakhir Golkar di Sulawesi. Tak ada lagi Kepala Daerah (Gubernur) dari Partai Golkar, kecuali Gorontalo.

Golkar tak boleh sepi. Harus tetap menjadi bagian dari kegembiraan dan determinasi peran dalam demokrasi di level lokal dan regional.

“Kalau terpilih lagi di Musda nanti, maka Rusli dan Golkar harus bertungkus lumus (bekerja lebih keras, berjuang keras) …”, begitu kalimat yang sempat dilontarkan Ian.***

 

HABARI.ID I Fadli Poli, 05 Maret 2020, 02.00 WITA