Gaya Memimpin Idah Syahidah Rusli Habibie, Menyejukkan Hati dan Pikiran Rakyat

oleh
oleh
foto istimewa.

HABARI.ID, PEMPROV I Tak ada jarak diantara mereka. Duduk sama rata di satu tempat yang sama, berdiri sama tinggi diatas lantai yang dipijaki bersama. Berbincang saling tukar pikiran, tertawa dengan keceriaan yang dirasakan bersama. Laksana ibu dan anak atau adik kakak, saling mengisi satu sama lain atas kekurangan yang dihadapi masing-masing.

Begitulah cara, gaya dan sikap seorang Idah Syahidah Rusli Habibie, pemimpin pertama dari kalangan perempuan sebagai Wakil Gubernur Gorontalo, dalam menyikapi, mengayomi dan berbincang dengan masyarakat Desa Lembah Hijau, Kecamatan Bone Pantai Kabupaten Bone Bolango Rabu (22/04/2026) yang terjebak dalam isu tak jelas mengenai MBG tak layak diproduksi SPPG Tihu.

Gaya kepemimpinan Idah Syahidah Rusli Habibie, sebagai Wakil Gubernur Gorontalo memanusiakan masyarakatnya penuh dengan rasa kasih sayang tulus, seperti kalimat yang pernah disampaikan Tokoh Politik asal India era 1869 – 1948 Mahatma Ghandi, yakni kasih sayang merupakan bentuk tertinggi dari sikap tanpa kekerasan.

Secara jelas Idah Syahidah Rusli Habibie sampaikan, kehadirannya di wilayah pesisir Kabupaten Bone Bolango itu karena Ia mendapatkan informasi tentang seorang warga yang viral usai menerima MBG yang diduga tak layak dari SPPG Tihu.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kebenaran informasi sekaligus mendengar langsung keterangan warga terkait dugaan makanan MBG yang tidak layak konsumsi. Dari hasil klarifikasi di lapangan, Wagub Idah menegaskan bahwa tidak ditemukan adanya intimidasi dari pihak SPPG maupun pemerintah desa terhadap masyarakat.

“Permintaan membaca kertas yang berisi permohonan maaf itu memang ada, tetapi bukan bentuk tekanan. Itu disampaikan oleh kepala desa karena makanan tidak dikonsumsi di sekolah, melainkan dibawa pulang dan dimakan pada malam hari,” jelasnya.

Ia juga meluruskan kabar terkait ancaman penghentian bantuan yang beredar di masyarakat. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar dan lebih dipengaruhi oleh kekhawatiran warga setelah kasus tersebut viral.

“Rasa takut itu muncul secara alami setelah ramai di media sosial, bukan karena ada tekanan dari pihak tertentu,” tambahnya.

Terkait temuan makanan yang berbelatung, Wagub Idah menjelaskan kronologi berdasarkan hasil pemantauan Dinas Kesehatan. Makanan MBG sempat dikonsumsi sebagian oleh siswa di sekolah, kemudian sisanya dibawa pulang. Dalam kondisi tersebut, makanan berpotensi terpapar lalat yang dapat bertelur dalam waktu singkat.

“Ini menjadi catatan penting. Menu MBG sebaiknya dikonsumsi langsung di sekolah. Jika dibawa pulang, harus dipastikan jenis menu dan batas waktu kelayakan konsumsinya,” tegasnya.

Wagub juga menyoroti distribusi MBG untuk kelompok B3, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ia menyebut masih adanya jeda waktu antara pengantaran dan penerimaan makanan oleh masyarakat, terutama melalui Posyandu atau kantor desa, yang berpotensi memengaruhi kualitas makanan.

“Untuk menghindari kejadian serupa, saya tegaskan kepada seluruh pihak SPPG agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi MBG,” tandasnya.

Pada pertemuan itu pula, Wakil Gubernur secara pribadi juga menyerahkan bantuan berupa sembako dan uang tunai kepada masyarakat penerima manfaat MBG sebagai bentuk kepedulian dan dukungan langsung.

Diketahui, kasus SPPG Tihu ini bermula saat seorang siswa membawa pulang lauk ayam dari program MBG. Makanan yang awalnya terlihat normal, kemudian berubah setelah disimpan hingga malam hari. Saat akan dikonsumsi, ditemukan belatung pada daging ayam tersebut, yang kemudian memicu perhatian publik.(bm/habari.id).

Baca berita kami lainnya di