HABARI.ID, DEKOT I Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo, lebih dari sekedar institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Tetapi RSUD yang akrab disebut RSAS Kota Gorontalo itu, merupakan simbol sejarah jejak abadi cendekiawan bangsa, Prof. dr. H. Aloei Saboe, memperjuangkan kesehatan agar berpihak kepada rakyat.
Tepat Rabu (20/05/2026) RSAS Kota Gorontalo berusia 100 tahun atau satu abad, penerbitan Buku berjudul Menjadi Lebih Baik untuk Semua, karya Basri Amin, Rahmat R. Datau, M. Isman Jusuf dan M. Rezki Daud, bukan sekedar seremonial belaka. Bahkan buku tersebut bukan hanya lembaran kertas untuk dijadikan pajangan yang siap dimakan rayap. Tetapi karya itu menjadi sebuah alarm untuk seluruh masyarakat di Provinsi Gorontalo, tentang perjalanan cendekiawan bangsa bagaimana memperjuangkan kesehatan untuk rakyat dan mendirikan RSAS Kota Gorontalo.
Demikian pula dengan Museum Aloei Saboe, tidak hanya sebuah tempat persinggahan yang menghiasi ruang bangunan RSAS Kota Gorontalo agar elok dipandang. Tetapi Museum Aloei Saboe menjadi tempat dimana masyarakat Gorontalo, tidak hanya datang berobat di RSAS Kota Gorontalo, melain ikut mengenang setiap saat perjuangan cendekiawan bangsa, Prof. dr. H. Aloei Saboe.
“Pada halaman 157 buku berjudul Menjadi Lebih Baik untuk Semua karya Kanda Basri Amin dan kawan-kawan, menjelaskan bahwa almarhum Prof. dr. H. Aloei Saboe, meski sibuk berkecimpung dengan dunia politik, tidak membuat Prof. dr. H. Aloei Saboe lupa dengan tugas kemanusiaan sebagai dokter. Kalau saya menyimpulkan, Prof. dr. H. Aloei Saboe mengurus rakyat yang sehat dan mengobat rakyat yang sakit agar cepat sehat,” ungkap Anggota DPRD Kota Gorontalo, Susanto H. Liputo, saat di temui pada persmian Museum Aloei Saboe.
Selain itu lanjut Susanto H. Liputo, yang juga Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Gorontalo bahwa keberadaan Museum Aloei Saboe memiliki berbagai manfaat besar. Mulai dari pelestarian sejarah dan indetitas Gorontalo, penguatan pariwisata edukasi, menjadi dorongan untuk Pemda dan DPRD dan sebuah ajakan kepada masyarakat dalam penguatan literasi.
“Museum ini penting untuk menjaga memori kolektif kita. Aloe Saboe bukan sekadar nama jalan atau reflika patung serta tokoh biasa. Beliau adalah pejuang dan tokoh penting, dalam sejarah Gorontalo terutama tokoh kesehatan dan pejuang Kemanusiaan. Dengan adanya museum, generasi muda tidak cuma baca sejarah di buku, tapi bisa lihat langsung artefak, dokumen dan ceritanya ..,”
“Kemudian museum ini menambah destinasi wisata di Gorontalo yang berbasis budaya dan edukasi. Dan sebagai aleg, saya akan dorong agar museum ini tidak berhenti di seremoni launching saja, tapi terus hidup dan menjadi Dinasti Wisata Baru, Perlu ada anggaran rutin untuk perawatan, kurator profesional, program edukasi sekolah, dan promosi digital biar museumnya hidup ..,”
“Saya berharap masyarakat Gorontalo, terutama anak muda, memanfaatkan museum ini. Datang, belajar dan ikut meramaikan dengan diskusi, pameran kecil, atau konten kreatif. Sejarah itu milik kita semua,” pungkasnya.(bm/habari.id).







